Bandung RayaKronikOlahragaPolitik

“BAGIAN KE-EMPAT”IDEOLOGI ISLAM MODERAT SEBAGAI PILIHAN

MBInews.id, Bandung – Mengenal Barisan Islam Moderat (BIMA) Serta Gerakan Olahraga Pernafasan Dan Beladiri Tenaga Dalam  Ideologi, adalah sangat penting untuk hidupnya sebuah organisasi, bahkan Ideologi dapat melewati batas-batas organisasi itu sendiri, karena walaupun bagaimana organisasi baik politik maupun ormas, hakikatnya hanyalah sebuah alat untuk mengejawantahkan sebuah ideologi.

Ideologi yang berkembang di dunia ini, secara garis besar hanya ada empat yang kemudian berkembang dengan berbagai varian, berbagai varian ideologi, tidak akan lepas dari ke-empat golongan besar ini. Ke-empat sumber utama ideologi ini adalah : kesatu, ideologi Kapitalisme dengan pola gerakan Liberalisme, kemudian yang kedua Sosialisme, ketiga Komunisme dan ke-empat adalah ideologi Religius, sedangkan Nasionalisme adalah ideologi demografi teritorial yang lahir dari kristalisasi penguatan ke-empat sumber utama ideologi tersebut.

Kristalisasi ke-empat sumber ideologi ini secara demografi teritorial dapat menjadi Nasionalisme dan dapat pula menjadi Universalisme Global. Sebagai contoh Nasionalisme Cina lahir dari kristalisasi ideologi Komunisme, Nasionalisme Amerika lahir dari kristalisasi ideologi Kapitalis Liberal, Nasionalisme Iran lahir dari kristalisasi ideologi Religius Islam Syi’ah dan Universalisme Global Khilafah adalah kristalisasi yang mendunia dari ideologi Religius Islam.

Pada setiap kurun waktu, bangsa Indonesia akan selalu dihebohkan dengan gerakan kebangkitan kembali Komunisme, bahkan sa’at ini pan Islamisme Khilafah menjadi masalah besar radikalisme, yang bertabrakan dengan Nasionalisme Islam seperti yang di gelindingkan NU dengan Islam Nusantara-nya.

Semua kehebohan ini perlu di gali untuk mencari pencerahannya dalam kacamata Islam Moderat, sehingga kita bisa mempunyai pandangan adil dan bijaksana, seperti halnya tercermin dalam ideologi yang sangat kuat bangsa Indonesia, apalagi kalau bukan PANCASILA.

Ummat Islam harus menyadari Komunisme sangat tidak logis dengan ajaran menyamaratakan dan menyamarasakan manusia tanpa kebebasan, kemudian kita sering mendengar Komunisme yang di identikan dengan Sosialisme, perlu di ketahui Sosialisme berbeda dengan Komunisme, karena Sosialisme adalah Sintesa dari Tesa Kapitalisme versus anti Tesanya Komunisme. Sosialisme masih melihat dan mengakui perbedaan, dengan membebaskan manusia untuk mencapai kekayaannya, namun setelah tercipta antara si kaya dan si miskin, ajaran Sosialisme memaksa si kaya memberi kepada si miskin, makanya dalam sejarah kepartaian di Indonesia, ada Partai Komunis Indonesia (PKI) pimpinan Semaun, Muso dan  kemudian Aidit, serta perlu di ingat ada Partai Sosialis Indonesia (PSI) pimpinan Syahrir. Komunisme haram bangkit lagi di Indonesia terlebih dengan muatan Atheisme (tidak bertuhan), tapi Sosialisme tidak masalah hidup kembali, karena akan berfungsi sebagai kontrol terhadap konglomerasi Kapitalisme Liberal yang semakin membabi buta di bumi Indonesia, sehingga menciptakan kondisi sosial si Kaya semakin kaya dan si Miskin semakin miskin.

Ajaran Kapitalis liberal tidak pernah peduli dengan kondisi ketimpangan sosial yang ada, Kapitalis liberal mengajarkan individualis total, negara tidak punya kewajiban untuk memaksa si Kaya memberi kepada si Miskin, antisipasi Kapitalis Liberal terhadap kemiskinan, hanya fokus bahwa kemiskinan menjadi tanggungjawab negara bukan tanggung jawab orang kaya, kalau orang kaya mau ngasih kepada orang miskin, cukup seikhlasnya, tidak ada paksaan dari negara kalau yang Kaya harus memberi kepada yang Miskin, paradigma Kapitalis Liberal ini sesungguhnya sangat tidak sesuai dengan pribadi bangsa Indonesia yang agamis, bahkan kalau mau jujur bukan sekedar komunisme yang suka di hinggapi atheisme, sama persis Kapitalisme Liberalpun sering2 di hinggapi muatan Atheisme, yang  membuat orang kaya tidak peduli sama sekali terhadap orang miskin, dan untuk mengantisipasi kondisi negatif ini, kita semua perlu mengembalikan kepada cita-cita bangsa Indonesia agar berkeadilan sosial, yang tercermin kuat dalam ideologi negara sila kelima dari Pancasila, yaitu Keadilan Sosial bagu Seluruh Rakyat Indonesia.

Ummat Islam sesungguhnya sudah mempunyai ajaran berkeadilan sosial atau sosialisme dengan ukuran yang pasti dari Pencipta Alam Semesta Allah Swt. Ajaran ini wajib diperjuangkan oleh ummat Islam untuk dapat di undang-undangkan, apakah ajaran itu? apalagi kalau bukan ajaran Zakat.

Sosialisme (kewajiban sosial) dan Zakat berbeda dengan Pajak, Kewajiban Sosial dan Zakat bertindak fokus mengantisipasi kondisi sosial ummat manusia agar berkeadilan, konsep aktualnya negara memaksa agar si Kaya memberi kepada si Miskin, sedangkan Pajak bersifat umum, negara memaksa warga negara untuk berkontribusi bagi kepentingan-kepentingan umum. Ummat Islam harus menyadari hal ini, agar terjadi Keadilan Sosial Bagi Seluruh Rakyat Indonesia yang merupakan sila kelima dari Pancasila, sehingga orang kaya menyayangi orang miskin.

Ingatlah, ketimpangan Sosial akan berakibat kecemburuan sosial, bagaimana tidak membuat cemburu, kalau kondisi sosial yang terjadi, membuat si kaya semakin kaya dan si miskin semakin miskin. Kecemburuan sosial pada puncaknya akan mengakibatkan ledakan sosial atau chaos, sebagai contoh peristiwa chaos di tahun 1998, selain kisruh politis, fenomena 98 adalah contoh akumulasi dari kecemburuan sosial yang menjadi ledakan sosial. Kita semua harus menyadari semua orang kaya tidak pemah kaya dengan sendirinya, dan kita semua harus tahu kenapa dia menjadi kaya pasti karena ada bantuan dari lingkungannya termasuk orang-orang miskin, oleh karena itulah ketika seseorang menjadi kaya, hakikatnya akan melekat dengan diri orang kaya tersebut akan kewajiban sosial terhadap lingkungannya yang notabene adalah sesama manusia yang tidak mampu untuk menjadi kaya, bahkan kondisinya selalu miskin. Dan dalam ajaran sosialisme kebebasan untuk menjadi kaya tidak mutlak seperti kapitalisme, tapi negara punya hak untuk memaksa si kaya peduli kepada si miskin, inilah yang hingga sa’at ini belum di laksanakan di Indonesia dalam kehidupan bernegara padahal jelas sekali berlandaskan Keadilan Sosial bagi seluruh rakyat Indonesia, kenyataannya Indonesia menganut Kapitalisme, kondisi ini  bisa di bilang aneh tapi nyata, padahal merdeka sudah lebih dari 70 (tujuh puluh) tahun, Pancasila hanya di bacakan sa’at upacara, pelaksanaan dan pengamalan Keadilan Sosial bagi Seluruh Rakyat Indonesia, masih jauh panggang dari apinya.

Demikianlah sedikit gambaran perbandingan Ideologi yang hidup dan berkembang di dunia ini; Kapitalisme, Sosialisme, Komunisme dan Religius.

Islam adalah Ideologi Religius yang paling besar di dunia. Kita semua umat Islam sangat yakin bahwa ajaran Islam dapat memberikan solusi bagi kehidupan sosial politis umat manusia. Ideologi Islam berkembang dengan berbagai ragam mahzab dan aliran pula, variasi ini menjadi pilihan-pilihan masyarakat muslim. Mengapa pilihan kita jatuh pada Ideologi Islam Moderat.

Selain memang fitrah kaum muslim yang ditetapkan Allah sebagai Umat Wasaton, Umat pertengahan/bijaksana (Q.S. Al-Baqarah 143), pertengahan/bijaksana dalam bahasa kekinian adalah moderat, dan moderat berasal dari kata modern, oleh karena itu ketika kita memakai bendera moderat yang dikawinkan dengan Ideologi Islam, terminologinya menjadi, golongan muslim yang kritis, memahami kekinian, berpikiran maju, global dan futuristik, karena kekritisannya inilah seorang moderat dalam setiap langkahnya selalu memilih untuk mengambil jalan tengah yang bijaksana, oleh karena itu moderat bisa diartikan juga golongan tengah, tidak kanan ataupun kiri, dan moderat adalah yang memahami kekinian dan dapat memprediksi peradaban masa depan (futuristik), dengan demikian seorang moderat akan sangat bertentangan dengan golongan konservatif yang sangat percaya dengan dogma-dogma yang sudah ada tanpa reserve dan hanya berpijak pada leter lekh (kata-kata dan bahasa tanpa penafsiran mendalam).

Kita yakin Ideologi Islam yang moderat adalah jalan yang terbaik, karena kitapun tahu persis kaum muslim dalam berbagai segmen kehidupan masih sangat terbelakang dibanding barat, kalau saja umat Islam berpikiran moderat, kita yakin, muslim bakal bisa cepat mengejar ketertinggalan ini, untuk itu kita secara tegas menyatakan sebagai BARISAN ISLAM MODERAT (BIMA), harapannya, kita bisa menggelindingkan secara lebih kuat Ideologi ini, sehingga dapat bermanfaat bagi percepatan kemajuan peradaban umat Islam dan bangsa Indonesia.

Hal ini dipertegas dengan salah satu pidato kenegaraan Presiden kita Joko Widodo, pada hari Jum’at, 22 April 2016, di hadapan warga Indonesia yang ada di Belanda pada saat kunjungan kenegaraan Presiden RI kepada Ratu Belanda, Presiden Republik Indonesia menyatakan bahwa :

 “Islam Moderat adalah salah satu aset terbesar diplomasi bangsa Indonesia”. Kita semua sebagai anggota Barisan Islam Moderat sangat bersyukur dan menyambut baik pidato Presiden Jokowi ini, dan hal inilah menurut pandangan BIMA menjadi salah satu bukti kongkrit program Revolusi Mental yang dicanangkan Presiden Jokowi manakala pertama kali Beliau menjadi Presiden RI, bahwasannya ummat Islam di Indonesia harus menyadari akan Maha Pentingnya Ideologi Islam Moderat sebagai aset terbesar diplomasi Indonesia, selain itu ideologi Islam Moderat sangat cocok bagi ummat Islam untuk  kehidupan berbangsa dan bernegara yang  berideologikan PANCASILA

Oleh : Ir. Dony Mulyana Kurnia ( DMK ) – Ketua Umum DPP BIMA – Wakil Ketua Umum KADIN JABAR – Bakal Calon Bupati Kabupaten Bandung 2020

Tags
Show More

Related Articles

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Back to top button