banner 728x250

Juni 2022, Kota Sukabumi Alami Inflasi Sebesar 0,58 Persen

banner 120x600
banner 468x60

SUKABUMI,Mbinews.id– Inflasi sebesar 0,58 persen alami Kota Sukabumi pada bulan Juni 2022 kemarin, dengan Indeks Harga Konsumen (IHK) sebesar 110,69. Inflasi terjadi itu disebabkan adanya kenaikan indeks harga dibeberapa kelompok pengeluaran.

“Juni 2022 kemarin, Kota Sukabumi alami inflasi sebesar 0,58 persen. Tapi, sejauh ini perkembangannya masih positif,”ujar Kepala Bidang Perekonomian, dan Sumber Daya Alam, pada Badan Perencanaan Pembangunan Daerah (Bappeda) Kota Sukabumi, Yanto Arisdiyanto. Kamis, (21/7/2022).

banner 325x300

Yanto menjelaskan, inflasi di bulan juni tersebut, dipicu adanya kenaikan harga yang ditunjukkan oleh naiknya indeks harga beberapa kelompok pengeluaran. Dinataranya, kelompok makanan, minuman dan tembakau sebesar 0,74 persen, kelompok pakaian dan alas kaki sebesar 0,44 persen, dilanjut dengan kelompok perumahan, air, listrik, dan bahan bakar rumah tangga sebesar 0,37 persen, dan kelompok perawatan pribadi dan jasa lainya sebesar 1,15 persen.

“Berdasarkan data dari Badan Pusat Statistik (BPS), kelompok – kelompok tersebut yang menyumbang terhadap inflasi pada bulan juni 2022,”ujarnya.

Selain itu juga berdasarkan data dari Dinas Koperasi, Usaha Mikro, Perindustrian dan Perdagangan (Diskumindag) Kota Sukabumi, perkembangan harga Bahan Pokok Penting (Bapokting) pada bulan Juni 2022 kemarin, trenya alami kenaikan harga. Seperti, cabai merah besar TW dibandrol Rp72 ribu per kg, cabai merah besar lokal Rp80.000 per kg atau naiknya sekitar Rp10 ribu per kg, tomat kecil dijual Rp20 ribu per kg, kol dikisaran Rp14 ribu per kg, dan cabai keriting merah dari Rp70 ribu menjadi Rp72 ribu per kg.

“Sebagian Bapokting pada bulan Juni kemarin terpantau naik harga. Terutama pada komoditas cabai,”katanya.

Yanto menambahkan, pihaknya bersama dinas dan lembaga lainya, akan terus melakukan analisa terhadap sumber atau potensi tekanan, serta melakukan inventarisasi data dan informasi perkembangan harga barang dan jasa secara umum.

“Termasuk menganalisis stabilitas permasalahan perekonomian daerah, yang dapat mengganggu stabilitas harga dan keterjangkaun barang dan jasa,”pungkasnya.ardan/wan/mbi.

banner 325x300

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.