SUKABUMI,Mbinews.id– Penelitian tahap kelima yang dilakukan Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), kembali menguatkan nilai historis koleksi Museum Prabu Siliwangi serta kawasan Gunung Tangkil, Kabupaten Sukabumi.
Hasil riset ini, dipaparkan dalam seminar nasional yang digelar Pondok Pesantren (Ponpes) Modern Dzikir Al-Fath Sukabumi. Rabu, (26/11/2025), sekaligus menjadi dasar ilmiah bagi upaya pengusulan Gunung Tangkil sebagai cagar budaya.
Pimpinan Pesantren Modern Dzikir Al-Fath, Fajar Laksana, menyampaikan, BRIN memastikan berbagai artefak di Museum Prabu Siliwangi—mulai dari batuan, arca, keramik, hingga naskah kuno—berstatus otentik dan berasal dari periode sejarah berbeda.
“Temuan di Gunung Tangkil dan artefak museum saling menguatkan, bahwa kawasan ini bukan sekadar bentang alam biasa, tetapi lanskap budaya yang pernah dihuni dan digunakan secara terstruktur,”ujar Fajar.
Kajian BRIN menemukan keberadaan empat teras situs di Gunung Tangkil. Pada masing-masing teras terdapat konsentrasi struktur batu, dakon, menhir, serta gundukan tanah yang diduga kuat berkaitan dengan aktivitas ritual dan sosial masyarakat masa lalu.
Lanskap di puncak gunung memperlihatkan pola pemanfaatan ruang yang terencana, tidak acak, dan mengikuti kebutuhan survival serta interaksi komunitas.

“BRIN menilai, kawasan tersebut berpeluang besar ditetapkan sebagai cagar budaya resmi, sepanjang memenuhi tahapan verifikasi dari pemerintah,”terangnya.
Pada bagian lain, BRIN meneliti 63 artefak keramik dari koleksi Museum Prabu Siliwangi. Temuan itu mencakup mangkuk, guci, buli-buli, botol, vas, serta peralatan dapur.
Analisis material dan teknologi pembakaran, menunjukkan keramik tersebut berasal dari rentang panjang abad ke-10 hingga abad ke-21, termasuk keramik Dinasti Tang, Yuan, Qing, serta produksi Thailand, Jepang, Eropa, hingga Nusantara modern seperti Singkawang.
“Keberagaman ini menunjukkan kuatnya hubungan perdagangan dan pertukaran budaya antardaerah maupun antarnegara pada masa silam,”katanya.
BRIN juga, sambung Fajar, mengonfirmasi keaslian naskah kuno yang ditulis menggunakan aksara Arab, Pegon, Jawa, dan Latin. Isinya meliputi ajaran Islam, sastra, astrologi, hingga historiografi tradisional Cirebon-Priangan.

“Keberadaan beberapa bahasa dalam satu naskah menandakan kapasitas intelektual tinggi masyarakat masa lampau dan luasnya jaringan pengetahuan yang mereka miliki,”ucapnya.
Melalui seminar nasional ini, Fajar berharap, hasil penelitian BRIN dapat menjadi pijakan awal untuk penguatan literasi sejarah, pengusulan resmi Gunung Tangkil sebagai cagar budaya, serta peneguhan Museum Prabu Siliwangi sebagai pusat riset warisan peradaban lokal.
“Warisan ini tidak hanya memiliki nilai artistik, namun juga menjadi bukti perjalanan peradaban Nusantara yang perlu dijaga dan dipelajari,”pungkasnya.ardan/wan/mbi.









