RegionalSukabumi

Para Pelaku IKM Di Kota Sukabumi Keluhkan Pemasaran

SUKABUM, MBInews.id – Permasalahan para pelaku Indutri Kecil Menengah (IKM) di Kota Sukabumi bukan hanya terbentur kepada permodalan saja. Melainkan, pemasaran yang saat ini menjadi masalah besar bagi IKM. Tak heran jika dari ribuan IKM yang ada, hanya ratusan saja bisa bertahan sampai  sekarang.”Masalahnya sih bukan hanya modal saja. Tapi, yang dikeluhkan saat ini masalah pemasaranya,”ujar Kabid Perindutrian Dinas Koperasi,UKM, Perdagangan dan Perindutrian (Diskopdagrin) Kota Sukabumi Yadi Erlangga. Jumat, (11/10/2019).

Berdasarkan catatanya, ada sekitar 4 ribu IKM di Kota Sukabumi, dari jumlah tersebut setengahnya (50%) yang aktif dan yang saat ini dalam pembinaan ada dikisaran 700 smapai 800 IKM.”Kalau diatas kertas sih  sekitar 4 ribuan jumlah IKM.Tapi yang tergolong aktif hampir setengahnya. Dan dari jumlah itu (4 ribu) sekitar 800 yang sat ini dalam binaan kami,”ungkap Yadi.

Sebetulnya tambah Yadi, pengembangan terhadap IKM tersebut terus dilakukan. Sebab, dari sisi potensi wilayah tidak memungkinkan untuk ke indutri skala besar. Sehingga indutri rumahan yang menjadi perhatian untuk terus dikembangkan.”Sesuai visi Kota Sukabumi, kita tidak diarahkan ke Indutri skala yang besar, karena terbentur dengan portensi wilayah. Akhirnya kami mengembangkan ke IKM yang sifatnya industri rumahan, dengan terus memberikan pendampingan agar prodak mereka lebih baik,”tuturnya.

Selai pendampingan tambah Yadi, pihaknya juga terus lakukan pembinaan dan pelatihan kepada mereka. Diantaranya, dengan mendatangkan pakar dalam segi kemasan produk. Termasuk mendatangkan dari Perguruan Tinggi untuk mengetahui cara pengelolaan sesuai dengan standar higienis termasuk.”Kota Sukabumi tidak memiliki rumah kemasan, jadi kita datangkan ahlinya, begitu juga dengan pengelolaan yang sehat dan bersih,kita juga datangkan dari IPB dan Unpas,”pungkasnya. (Ardn/Mbi)

Tags
Show More

Related Articles

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Back to top button