SUKABUMI, Mbinews. id – Badan Perencanaan Pembangunan (Bappeda) Kota Sukabumi, mengikuti kegiatan Penilaian Kinerja (PK) terhadap Pelaksanaan 8 (delapan) Aksi Konvergensi Percepatan Penurunan Stunting di Kota Sukabumi. Kegiatan tersebut dilakukan secara virtual di Ruang Pertemuan Sekretariat Daerah Kota Sukabumi, Kamis (06/07).
Kepala Bappeda Kota Sukabumi, Reni Rosyida Muthmainnah mengatakan, berdasarkan hasil penilaian yang dilakukan oleh tim gabungan dan dipimpin langsung oleh Bappeda Provinsi Jawa Barat tersebut, Pemerintah Kota Sukabumi mendapat apresiasi atas kinerjanya terkait inovasi dan juga upaya percepatan penurunan kasus stunting.
“Alhamdulilah, meskipun belum ada hasil rinci dari penilaian yang berlangsung, namun secara umum Pemerintah Kota Sukabumi mendapatkan apresiasi atas inovasinya dan percepatan penurunan kasus stunting yang ada. Karena menurut Pemerintah Provinsi Jawa Barat, program yang dibuat oleh Pemerintah Kota Sukabumi sudah sejalan dengan program yang ada di Provinsi Jawa Barat,” ujar Reni kepada awak media.
Lanjutnya, namun demikian terdapat pula beberapa evaluasi yang disampaikan oleh tim gabungan penilai terhadap Pemerintah Kota Sukabumi untuk penerapan pelaksanaan delapan aksi konvergensi percepatan penurunan stunting saat ini.
“Tentunya ada beberapa evaluasi yang disampaikan untuk perbaikan dari program penurunan stunting ini. Seperti tahapan, latar belakang, target penurunan angka stunting yang akan dibuat, serta dampak dan inovasi yang dibuat Bappeda Kota Sukabumi untuk menurunkan angka stunting,” jelasnya.
Masih menurut Reni, saat ini berdasarkan hasil Survey Status Gizi Indonesia (SSGI) pada tahun 2022 angka kasus stunting di Kota Sukabumi berada pada 19,02 persen. Namun jika berdasarkan data pada aplikasi elektronik-Pencatatan dan Pelaporan Gizi Berbasis masyarakat (e-PPGBM) pada 2019 sampai 2022, kasus stunting di Kota Sukabumi berada di angka 4, 3 persen.
“Dari data tersebut tentunya akan menjadi rujukan bagi kami selaku leading sektor dalam penanganan kasus stunting di Kota Sukabumi untuk terus melakukan upaya dan juga inovasi dalam penurunan kasus stunting yang ada saat ini,” bebernya.

Dalam penilaian yang dilakukan Tim Percepatan Penurunan Stunting (TPPS) Provinsi Jawa Barat tersebut, turut dihadiri pula oleh Wali Kota Sukabumi Achmad Fahmi dan Ketua TP PKK Kota Sukabumi Fitri Hayati Fahmi. Di momen tersebut Wali Kota Sukabumi menyampaikan paparan mengenai pencapaian komitmen konvergensi penurunan stunting seperti inovasi yang digulirkan.
“Data Survei Status Gizi Indonesia (SSGI) 2019, 2021 dan 2022, Kota Sukabumi berada di bawah rata-rata baik nasional maupun provinsi Jabar,” ujar Wali Kota Sukabumi Achmad Fahmi. Data juga berasal dari Aplikasi elektronik-Pencatatan dan Pelaporan Gizi Berbasis masyarakat (e-PPGBM) pada 2019 sampai 2022.
Semoga kata Fahmi di 2023 memenuhi dan melebihi dari target yang ditetapkan termasuk 2024. Fahmi. Ia juga menyampaikan bisnis proses perencanaan kegiatan percepatan penurunan stunting
Diantaranya Input, proses output, outcome dan dampaknya. Proses input diawal memberikan dampak peningkatan derajat kesehatan.
Input lainnya pernyataan komitmen percepatan penanganan stunting di Setwapres 2021. Intinya berkomitmen percepatan penurunan stunting.
“Dengan melakukan kolaborasi bukan hanya dengan lintas SKPD melibatkan elemen pentahelix di dalamnya,” cetus Fahmi. Dalam delapan aksi konvergensi itu aksi pertama analisa situasi dan analisis situasi pernyataan komitmen TPPS tingjat kota, kecamatan dan kelurahan.
Upaya ini digulirkan dengan adanya 4 inovasi. Pertama Inovasi Sisters dari Bappeda adalah sistem informasi terintegrasi data stunting.
Jadi keluarga yang punya risiko stunting dimasukkan ke dalam sistem informasi dan dilakukan update. Sehingga bisa melihat dukungan bantuan apa yang didapatkan dan bantuan yang belum sehingga fokus pada percepatan penanganan stunting.
Kedua Inovasi Move on Guys dari Dinas Kesehatan. Sasarannya pelajar SMP dan SMA diberikan tablet tambah darah, sarapan bersama di sekolah, aktivitas fisik olahraga bersama dan jingle Move on Guys.
Termasuk terang Fahmi, memiliki modul kurikulum Posyandu remaja hasil kolaborasi i tim PKK Kota Sukabumi hingga kelurahan. Di mana ada 288 posyandu remaja dari 461 posyandu dan akan lakukan percepatan semua posyandu mempunyainya.
Inovasi ketiga, Pasti Penting, yakni kolaborasi DKP3 dan Bappeda yakni pangan lokal sehat, gizi tinggi untuk pencegahan new stunting. Sukabumi punya pangan lokal bergizi.
Fahmi menuturkan, dua pihak diuntungkan bagi masyarakat berisiko stunting dan petani. Masyarakat beresiko mendapatkan pangan gizi dan mencegah new stunting dan bagi petani mendapatkan kepastian pasar dari sisi nilai ekonomi produk meningkatkan kesejahteraan petani.
Inovasi keempat, Mentari Berdasi yakni mengatasi stunting berkolaborasi bersama Dalduk, KB,P3A serap informasi. (Ardan/Wan/Mbi)