Inflasi Kota Sukabumi Terkendali di 2,75 Persen, Pemkot Perkuat Pengawasan Harga Pangan
- account_circle mbiredaktur
- calendar_month 13 jam yang lalu
- visibility 90
- comment 0 komentar
- print Cetak

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.
SUKABUMI,Mbinews.id – Inflasi tahunan Kota Sukabumi, tercatat sebesar 2,75% pada September 2026. Angka tersebut lebih rendah dibandingkan inflasi Provinsi Jawa Barat sebesar 3,16% dan nasional sebesar 3,28%, berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS) Kota Sukabumi per 1 Oktober 2026.
Sementara itu, inflasi bulanan atau month-to-month (MtM) Kota Sukabumi pada September 2026 tercatat sebesar 0,13%. Capaian inflasi tahunan tersebut masih berada dalam sasaran inflasi nasional sebesar 2,5% dengan toleransi plus-minus 1%.
Wali Kota Sukabumi, Ayep Zaki, mengatakan, terkendalinya inflasi merupakan hasil sinergi berbagai pihak dalam menjaga stabilitas harga kebutuhan pokok dan daya beli masyarakat di tengah tekanan ekonomi serta perubahan kondisi cuaca.
“Inflasi tahunan Kota Sukabumi sebesar 2,75% menunjukkan bahwa tekanan harga masih terkendali. Namun, pemerintah daerah tidak boleh berpuas diri dan akan terus memperkuat pengawasan harga, menjaga ketersediaan pasokan, serta memastikan distribusi pangan berjalan lancar,”ujar Ayep. Kamis, (15/10/2026).
Menurut Ayep, Pemerintah Kota (Pemkot) Sukabumi bersama Tim Pengendalian Inflasi Daerah (TPID) akan meningkatkan pemantauan harga kebutuhan pokok di pasar. Koordinasi dengan distributor juga akan diperkuat untuk mengantisipasi gangguan pasokan dan lonjakan harga.
Selain itu, pemerintah daerah akan melanjutkan program pangan murah guna membantu masyarakat memperoleh kebutuhan pokok dengan harga terjangkau.
“TPID akan terus melakukan pemantauan intensif di lapangan, memperkuat koordinasi dengan jaringan distributor, dan memastikan program pangan murah berlanjut agar masyarakat dapat memenuhi kebutuhan pokok dengan harga yang terjangkau,”katanya.
Terpisah, Kepala Bagian Perekonomian Sekretariat Daerah Kota Sukabumi, Neng Rahmi, menjelaskan, inflasi bulanan pada September 2026 antara lain dipengaruhi oleh kenaikan harga telur ayam ras dan telepon seluler. Kedua komoditas tersebut masing-masing memberikan andil inflasi sebesar 0,04 poin persentase, sedangkan pisang menyumbang 0,03 poin persentase.
Kenaikan harga juga terjadi pada sejumlah komoditas pangan, antara lain daging ayam ras, buncis, beras, cabai rawit, dan jagung manis.
Adapun secara tahunan, emas perhiasan menjadi komoditas dengan andil inflasi terbesar, yakni 0,39 poin persentase. Bensin menyusul dengan andil sebesar 0,24 poin persentase.
Sejumlah komoditas pangan, seperti daging ayam ras, beras, tahu mentah, dan minyak goreng, turut berkontribusi terhadap inflasi tahunan Kota Sukabumi.
Rahmi mengatakan, tekanan harga pangan berkaitan dengan kondisi iklim dan peningkatan permintaan pasar. Kemarau panjang pada periode sebelumnya turut menekan pasokan sejumlah bahan pangan segar, termasuk cabai dan beras.
“Selain faktor cuaca yang memengaruhi ketersediaan pasokan, peningkatan permintaan masyarakat juga mendorong kenaikan harga telur dan daging ayam ras,”jelas Rahmi.
Meski demikian, tekanan inflasi pada sejumlah komoditas dapat diimbangi oleh peningkatan pasokan. Salah satunya melalui panen raya bawang merah yang membantu menekan harga komoditas tersebut di pasar.
Untuk menjaga stabilitas harga dan daya beli masyarakat, sambung Rahmi, TPID Kota Sukabumi telah menjalankan sejumlah program pengendalian inflasi sepanjang September 2026.
“Program tersebut meliputi penyaluran bantuan pangan, pelaksanaan Gerakan Pangan Murah (GPM) di 11 titik, serta pasar murah dan bazar di delapan titik,”katanya.
Rahmi mengatakan, berbagai langkah tersebut ditujukan untuk menjaga keterjangkauan harga kebutuhan pokok sekaligus membantu masyarakat menghadapi kenaikan harga sejumlah komoditas.
“Program bantuan pangan, Gerakan Pangan Murah, serta pasar murah dan bazar merupakan bagian dari upaya pemerintah daerah untuk menjaga keterjangkauan harga dan daya beli masyarakat,”ucapnya.
Ke depan, pemerintah daerah akan terus memantau perkembangan harga dan ketersediaan komoditas strategis.
“Upaya itu diharapkan, dapat membantu menjaga inflasi Kota Sukabumi tetap terkendali sekaligus meminimalkan dampak kenaikan harga terhadap pengeluaran rumah tangga,”pungkasnya.ardan/mbi.
- Penulis: mbiredaktur


Saat ini belum ada komentar