Ponpes Dzikir Al-Fath Sukabumi Kirim Santri ke Jepang, Siap Makmurkan Lima Masjid
- account_circle mbiredaktur
- calendar_month Kamis, 5 Nov 2026
- visibility 174
- comment 0 komentar
- print Cetak

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.
SUKABUMI,Mbinews,id — Pondok Pesantren Dzikir Al-Fath, Kota Sukabumi, kembali memperluas jangkauan dakwahnya melalui program Ustaz Garis Depan (UGD). Kali ini, pesantren tersebut memberangkatkan sejumlah mahasiswa ke Jepang untuk mengisi kebutuhan tenaga keagamaan di lima masjid yang tersebar di empat kota.
Para santri yang diberangkatkan akan menjalankan tugas selama tiga bulan, mulai dari menjadi imam shalat lima waktu, memimpin pengajian rutin, hingga menghidupkan berbagai kegiatan keagamaan di masjid. Program ini merupakan tindak lanjut atas permintaan komunitas Muslim di Jepang yang membutuhkan pendampingan dan tenaga pengajar agama Islam.
Pimpinan Pondok Pesantren Dzikir Al-Fath, KH Fajar Laksana, menjelaskan, pengiriman ustaz ke Jepang menjadi pengalaman pertama bagi pesantrennya setelah sebelumnya menjalankan program UGD di sejumlah wilayah terpencil di Indonesia, khususnya Pulau Buru, Maluku.
“Selama ini kami sudah memberangkatkan puluhan ustaz untuk berdakwah di daerah terpencil, terutama di Pulau Buru. Kemudian, ada permintaan dari komunitas Muslim di Jepang yang mengetahui program tersebut dan meminta kami mengirimkan ustaz untuk membantu mengelola masjid di sana,” ujar Fajar.
Menurut dia, terdapat sejumlah masjid di Jepang yang telah berdiri, tetapi belum memiliki imam dan ustaz tetap untuk mengelola kegiatan ibadah. Kondisi tersebut menjadi salah satu alasan komunitas Muslim setempat meminta bantuan melalui program UGD.
Fajar menyebutkan, para mahasiswa akan ditempatkan di lima masjid yang berada di empat kota di Jepang, di antaranya Ibaraki dan Nagoya. Penugasan dilakukan dengan sistem pergantian setiap tiga bulan agar program dakwah dapat berlangsung secara berkelanjutan.

“Program ini dirancang dengan pola rotasi. Setelah menjalankan tugas selama tiga bulan, para ustaz akan kembali ke Indonesia dan digantikan oleh peserta berikutnya. Dengan demikian, pengiriman tenaga dakwah dapat terus berjalan,” katanya.
Selain menjadi imam dan mengisi pengajian setiap malam, para peserta juga akan menyelenggarakan tabligh akbar di lima masjid tersebut. Mereka dipersiapkan untuk menjalankan berbagai pelayanan keagamaan yang dibutuhkan masyarakat Muslim setempat.
Materi pembekalan yang diberikan tidak hanya mencakup kemampuan berdakwah, tetapi juga fikih praktis dalam kehidupan sehari-hari. Para peserta harus memahami tata cara penyelenggaraan jenazah, mulai dari memandikan, mengafani, hingga menyalatkan dan menguburkan.
Mereka juga dibekali pemahaman mengenai fikih pernikahan, zakat, infak, kurban, serta ketentuan makanan halal. Pengetahuan tersebut dinilai penting untuk membantu masyarakat Muslim di Jepang yang membutuhkan pendampingan dalam menjalankan kehidupan beragama.
“Ustaz yang kami kirim harus memahami persoalan ibadah secara menyeluruh. Mereka bukan hanya bertugas menjadi imam, tetapi juga harus mampu memberikan penjelasan dan pendampingan ketika masyarakat menghadapi persoalan keagamaan,” tutur Fajar.
Ia menambahkan, para peserta berasal dari Institut Agama Islam Syam Al-Faqih. Karena berstatus mahasiswa, pelaksanaan program selama tiga bulan tersebut turut dikoordinasikan dengan Koordinator Perguruan Tinggi Keagamaan Islam Swasta (Kopertais).

Pimpinan Pondok Pesantren Dzikir Al-Fath, KH Fajar Laksana
Koordinasi dilakukan agar kegiatan pengabdian masyarakat di Jepang dapat diakui sebagai bagian dari program magang akademik dan memperoleh pengakuan satuan kredit semester (SKS). Dengan demikian, mahasiswa tetap dapat memenuhi kewajiban akademiknya selama menjalankan tugas dakwah.
Program tersebut juga melibatkan sejumlah lembaga, antara lain Kementerian Agama (Kemenag), Badan Amil Zakat Nasional (BAZNAS), Kopertais, dan Ikatan Sarjana Muslim Indonesia (ISMI). Dukungan kelembagaan diperlukan untuk memastikan pelaksanaan dakwah di luar negeri berjalan sesuai ketentuan.
Fajar mengatakan, rekomendasi Kemenag menjadi salah satu persyaratan penting dalam proses keberangkatan, termasuk untuk pengurusan visa dan administrasi kegiatan keagamaan di luar negeri.
“Kami tidak bisa menjalankan program ini sendiri. Meskipun sumber daya manusianya berasal dari pesantren, tetap diperlukan kolaborasi dengan berbagai institusi. Terlebih, kegiatan dakwah di luar negeri harus memiliki rekomendasi dan mengikuti ketentuan yang berlaku,” ujarnya.
Dukungan BAZNAS, lanjut Fajar, juga telah diberikan dalam pengembangan program dakwah di wilayah tertinggal, terdepan, dan terluar (3T). Pesantren Dzikir Al-Fath bahkan dipercaya menjadi bagian dari pengelolaan Mualaf Center BAZNAS di Pulau Buru, Maluku.
Sementara itu, selama menjalankan tugas di Jepang, kebutuhan dan fasilitas para ustaz akan ditanggung oleh komunitas Muslim setempat. Adapun biaya keberangkatan ditanggung secara mandiri oleh pihak pesantren sebagai bagian dari konsep kemandirian program UGD.
Di sela kegiatan dakwah, rombongan juga dijadwalkan bertemu dengan sejumlah agensi di Jepang untuk membahas kelanjutan kerja sama melalui nota kesepahaman (MoU), khususnya terkait penyediaan tenaga kerja ke Jepang.
Fajar berharap, pengiriman mahasiswa melalui program UGD dapat menjadi langkah awal pengembangan dakwah pesantren di tingkat internasional. Ia menegaskan, para peserta juga dibekali pendekatan dakwah yang santun dan moderat agar kehadiran mereka dapat memberikan manfaat sekaligus menjaga kerukunan antarumat beragama.
“Kami ingin membawa model dakwah yang santun sebagaimana diajarkan para Wali Songo. Dakwah harus mengedepankan kedamaian, menjaga kerukunan, dan tidak menimbulkan persoalan di negara tempat kita bertugas,” pungkasnya.ardan/wan/mbi.
- Penulis: mbiredaktur



Saat ini belum ada komentar