Bandoeng 10K Bukan Sekadar Fun Run, Kini Jadi Barometer Lari Nasional
- account_circle MBI Admin
- calendar_month Senin, 18 Mei 2026
- visibility 26
- comment 0 komentar
- print Cetak

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.
BANDUNG,Mbinews – Ajang lari Bank BJB Bandoeng 10K 2026 dinilai semakin menunjukkan kelasnya sebagai kompetisi lari yang serius dan kompetitif. Tidak lagi sekadar menjadi ajang rekreasi bagi komunitas pelari, event ini kini berkembang menjadi salah satu barometer prestasi lari jarak menengah di Indonesia.
Ketua Komisi Pemassalan PASI, Satyo Haryo Wibisono, menilai kualitas persaingan pada penyelenggaraan tahun ini mengalami peningkatan signifikan, baik di kalangan atlet elite maupun pelari rekreasional.
“Bukan hanya di level elite, pelari rekreasional juga semakin serius. Pelari yang mampu finis di bawah 55 menit semakin banyak, bahkan yang di bawah satu jam jumlahnya sangat besar. Ini menunjukkan kualitas peserta terus meningkat,” ujar Satyo dalam konferensi pers Bank BJB Bandoeng 10K di Balai Kota Bandung, Minggu (17/5/2026).
Menurutnya, fenomena tersebut menjadi indikator tumbuhnya budaya olahraga lari di Indonesia yang kini semakin kompetitif dan diminati berbagai kalangan.
Satyo menyoroti performa impresif para pelari elite yang tampil pada edisi tahun ini. Pada kategori putra, pelari elite mampu menyelesaikan lomba 10 kilometer hanya dalam waktu sekitar 26 menit.
“Belum sampai setengah jam, pelari elite pria sudah menyentuh garis finis. Ini membuktikan kualitas kompetisi Bandoeng 10K terus meningkat dari tahun ke tahun,” katanya.
Persaingan sengit juga terjadi di kategori putri. Pelari nasional Odekta Elvina Naibaho harus menghadapi tekanan dari pelari-pelari asal Kenya yang tampil dominan sepanjang lomba.
“Persaingannya sangat ketat. Selisih waktunya tipis dan itu menunjukkan level kompetisi yang tinggi,” tambah Satyo.
Bandung Punya Daya Tarik Tersendiri
Sementara itu, pelari nasional Odekta Elvina Naibaho mengaku Bandoeng 10K memiliki karakteristik berbeda dibandingkan ajang serupa di kota lain.
Menurutnya, kombinasi rute, kondisi cuaca, serta dukungan masyarakat menjadikan lomba di Kota Bandung memiliki pengalaman yang unik dan berkesan.
“Bandung punya tantangan tersendiri. Tahun ini terasa lebih menantang karena hadir pelari-pelari dari Kenya yang membuat persaingan semakin kompetitif,” ujar Odekta.
Ia menilai suhu udara Bandung yang relatif sejuk menjadi nilai tambah bagi para peserta. Selain itu, antusiasme warga yang memadati sepanjang jalur lomba turut memberikan semangat ekstra bagi para pelari.
Bahkan, Odekta menyebut Bandoeng 10K layaknya sebuah pesta rakyat yang melibatkan seluruh elemen masyarakat.
“Saya berharap ke depan jalurnya semakin steril sehingga semua orang bisa menikmati suasana lomba dengan lebih nyaman. Ini sudah seperti hajatan Kota Bandung,” tuturnya.
Dorong Perbaikan Infrastruktur Kota
Di sisi lain, Wali Kota Bandung, Muhammad Farhan, menilai berkembangnya event lari berskala besar seperti Bandoeng 10K menjadi momentum bagi pemerintah untuk terus meningkatkan kualitas infrastruktur perkotaan.
Menurut Farhan, konsep jalan yang baik bukan hanya mendukung mobilitas kendaraan, tetapi juga harus memberikan kenyamanan bagi pejalan kaki, pelari, pesepeda, hingga penyandang disabilitas.
“Jalan terbaik adalah jalan yang ramah bagi pejalan kaki dan masyarakat yang gemar berolahraga, termasuk lari dan jogging,” kata Farhan.
Ia menyebut penyelenggaraan event olahraga massal menjadi sarana evaluasi bagi pemerintah dalam memperbaiki fasilitas publik dan menciptakan ruang kota yang lebih inklusif.
Selain berlangsung meriah, pelaksanaan Bandoeng 10K 2026 juga tercatat aman. Dari 35 peserta yang sempat mendapatkan penanganan di tenda medis, tidak ditemukan kasus cedera serius.
Tingkat penyelesaian lomba atau finisher rate bahkan mencapai sekitar 97 persen dari total peserta yang memulai perlombaan, menjadi indikator tingginya kesiapan peserta sekaligus suksesnya penyelenggaraan event tahun ini.
Saat ini belum ada komentar