Breaking News
Trending Tags

Pengiat MMR UIN Bandung : RUU Cipta Kerja ” Omnibus Law” Akibatkan Dampak Pengaruh Ke Dunia Pendidikan & Kerja

  • account_circle mbiredaktur
  • calendar_month Minggu, 5 Apr 2020
  • visibility 150
  • comment 0 komentar
  • print Cetak

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.

BANDUNG, MBInews.id – Pembahasan mengenai RUU Omnibus Law Cipta kerja belakangan ini marak dilakukan oleh berbagai kalangan di Indonesia. Kalangan yang berkepentingan seperti pemerintah, wakil rakyat, pengusaha, buruh maupun akademisi hampir tidak hentinya mencari solusi mujarab menurut versinya masing-masing. Dalam keteranganyah, minggu (5/4/2020)

Hal itu disampaikan Pengiat Malam Reboan (MMR) UIN SGD Bandung,  M.yusuf  Wibisono  Menjelaskan Semangat diskursusnya lebih pada mencari titik temu dari berbagai kepentingan. Meskipun pencarian titik temu itu memunculkan dinamika sosial pro-kontra, Dinamika sosial ini dimungkinkan mempengaruhi keberlangsungan hidup berbangsa dan bernegara, terutama pada aspek perkembangan iklim ekonomi. 

Mengingat di era globalisasi ini berbagai problem menyelimuti hampir semua negara. Keterlambatan dan ketidakpastian ekonomi global – akibat pendemi Covid 19 – sangat mempengaruhi nation building, terutama Indonesia. Tuturnya

Belum lagi angka terpapar dan kematian dampak dari pendemi Covid 19 semakin bertambah dan siap mengancam keberlangsungan kehidupan manusia di muka bumi. Lazimnya, momentum ini bisa menyadarkan seluruh elemen anak bangsa untuk bekerjasama mengatasi berbagai problem terutama ancaman keterpurukan ekonomi.

Dijelaskan dampak ini sangat berpengaruh pada masyarakat kalangan bawah (grassroot), yang sebagian dari mereka bekerja sebagai tenaga kerja (pekerja) di sektor manufaktur yang terkait langsung dengan para investor (pengusaha). Ungkap Yusuf

Secara sosio-historis, Menurut Yusuf selama ini dunia pendidikan di Indonesia kesannya kurang menyikapi secara serius tantangan dunia global dan modern. Terobosan Mendikbud Nadiem Makarim untuk mempercepat langkah maju menjadi perguruan tinggi berkelas dan dikenal di dunia, direspon positif oleh berbagai kalangan akademisi yang jengah melihat stagnasi laju perguruan tinggi di Indonesia.

Misalnya APTISI, mendukung program kebijakan menteri untuk mempermudah perijinan dalam pembukaan prodi baru pada PTS secara otonom, dengan tidak menggunakan birokrasi yang berbelit-belit dan panjang. Adapun dasar kemudahan pendirian program studi (prodi) bagi Perguruan  Tinggi Negeri (PTN) dan Perguruan  Tinggi Swasta (PTS), apabila sebelumnya memperoleh akreditasi  A dan B.
Untuk mengikuti arus perubahan dan kebutuhan akan link and match dengan industri, perguruan tinggi membutuhkan gerak cepat dan sikap adaptif dalam menyikapi pemenuhan kebutuhan mahasiswa. Kata Yusuf

Dikatakan Salah satunya adalah membuka program studi yang sesuai dengan perkembangan kemajuan dan kebutuhan lapangan pekerjaan. Pemerintah mendorong kemudahan tersebut, dengan dasar pijakannya adalah, Permendikbud No. 7 Tahun 2020  tentang Pendirian, Perubahan,  Pembubaran Perguruan Tinggi  Negeri, dan Pendirian, Perubahan,  Pencabutan Izin Perguruan Tinggi  Swasta.

Perguruan tinggi yang ada di daerah tidak harus selalu berkiblat pada perguruan tinggi di kota. Perguruan tinggi sudah seharusnya memberikan efek terhadap ekonomi daerah. Misalnyanya, apabila suatu daerah memiliki sumber daya sektor perikanan, maka bidang perikanannya di perguruan tinggi juga harus kuat berbasis perikanan. Demikian pula dengan kebutuhan industri lainnya yang terkait dengan kebutuhan masyarakat dan kebutuhan eksport.ucapnya

Bertolak dari beberapa pembahasan di atas, terdapat gambaran yang semakin jelas betapa pentingnya RUU Omnibus Law Cipta kerja untuk dijadikan Undang-Undang. Namun demikian, mengingat Indonesia menganut demokrasi Pancasila, seyogyanya memberi ruang dialog dan koreksi dari stakeholder dalam upaya mencari titik temu yang win-win solution. 

Karena RUU Omnibus Law Cipta  Lapangan Kerja merupakan “ijtihad” hukum untuk membuat solusi dari paradoks peraturan dan perundang-undangan di Indonesia yang selama ini menghambat investasi dan iklim perekonomian yang sehat. Dengan demikan, terdapat beberapa catatan penting dari pembahasan tersebut di atas, antara lain:

Pertama, berdasarkan data BPS yang dikutip oleh Kementerian Kooordinator Perekonomian (2020), bahwa Indonesia memiliki jumlah Pengangguran = 7,05 Juta; Angkatan Kerja Baru = 2,24 Juta; Setengah Penganggur = 8,14 Juta; Pekerja Paruh Waktu = 28,41 Juta; sehingga Total = 45,84 Juta (34,4%) Angkatan Kerja bekerja tidak penuh, ditambah  dengan jumlah penduduk yang bekerja pada sektor informal sebanyak 70,49 juta orang (55,72% dari total penduduk yang bekerja). Inilah salah satu masalah penting yang diharapkan dapat diselesaikan dengan hadirnya Omnibus Law RUU Cipta kerja.

Kedua, dengan Omnibus Law Cipta kerja, masalah pengangguran (unemployment) dapat diatasi dengan cara menyediakan lapangan kerja yang lebih berkualitas. Lapangan kerja akan terbuka apabila ada kegiatan investasi pada sektor riil yang menghasilkan barang dan jasa. Ketika kegiatan investasi tidak dapat seluruhnya dilakukan oleh pemerintah (melalui belanja negara, pendirian BUMN, dll), maka cara lain yang bisa dilakukan adalah dengan memberikan kesempatan berinvestasi pada swasta (dalam dan luar negeri). Untuk menarik investasi swasta ini, perlu kemudahan-kemudahan, jaminan keamanan, jaminan keberlangsungan, dan iklim yang menguntungkan bagi investor.

Ketiga, Omnibus Law Cipta Kerja menekankan pada investasi yang lebih produktif dan berkualitas, baik investor yang berskala besar sampai yang kecil sekalipun. Dengan begitu diperlukan langkah-langkah strategis dari pemerintah untuk berlaku adil pada berbagai kelompok investor. Mengingat investasi tidak selalu harus dilakukan oleh investor yang besar. Investasi juga bisa dilakukan oleh kelompok UMKM. Dengan demikian, kemudahan berinvestasi juga diharapkan akan berdampak pada tumbuhnya UMKM, sehingga rasio jumlah wirausaha berbanding jumlah penduduk bisa lebih ditingkatkan.

Keempat, Omnibus Law Cipta kerja merupakan suatu Undang-Undang yang dibuat untuk lebih mempermudah investasi, termasuk diantaranya adalah investasi bidang pendidikan.  Dalam RUU Omnibus Cipta kerja Pasal 432 ayat 1, disebutkan;

“Lembaga pendidikan asing yang terakreditasi atau yang diakui di negaranya dapat menyelenggarakan pendidikan di wilayah Negara Kesatuan Republik Indonesia sesuai dengan peraturan perundang-undangan yang berlaku”,

Dilanjutkan dengan Pasal 433 yang mempermudah proses pendiriannya, yaitu kewajiban kampus asing itu hanya: (1) memperoleh izin pemerintah;  (2) berprinsip nirlaba; dan (3) mendukung kepentingan nasional.
Kelima, Mendikbud Nadiem Makarim, menangkap RUU tersebut dengan menghadirkan Kampus Merdeka yang didukung empat program utama, antara lain adalah; (1) Kemudahan membuka program studi baru, (2) Perubahan sistem akreditasi kampus, (3) Kemudahan status kampus menjadi badan hukum, dan (4) Harapan yang hendak dicapai adalah, melahirkan mahasiswa yang lebih kreatif dan siap menghadapi lapangan kerja ketika dia lulus. Mahasiswa akan siap menghadapi segala tantangan dunia usaha, dan sigap untuk mengisi segala bentuk lapangan kerja yang tersedia. Selain itu, mahasiswa juga dipersiapkan menjadi peneliti yang inovatif, diakui dunia, namun juga dapat menyelesaikan permasalahan lokal, sekaligus menjadi seorang entrepreneur yang mampu menciptakan lapangan pekerjaan bagi dirinya sendiri maupun orang lain.

Alhasil,  melibatkan semua yang berkepentingan (stakeholder) dan para pakar dalam menyusun regulasi Omnibus Law Cipta kerja, merupakan langkah bijak demi kepentingan bersama dalam menyehatkan iklim perekonomian menuju kesejahteraan sosial di Indonesia.pungkas Yusuf

  • Penulis: mbiredaktur

Komentar (0)

Saat ini belum ada komentar

Silahkan tulis komentar Anda

Email Anda tidak akan dipublikasikan. Kolom yang bertanda bintang (*) wajib diisi

Rekomendasi Untuk Anda

  • Perkuat Tata Kelola Keuangan Daerah, Wali Kota Sukabumi Kunker ke BPK Jabar

    Perkuat Tata Kelola Keuangan Daerah, Wali Kota Sukabumi Kunker ke BPK Jabar

    • calendar_month Senin, 28 Jul 2025
    • account_circle mbiredaktur
    • visibility 147
    • 0Komentar

    SUKABUMI,Mbinews.id– Dalam meningkatkan koordinasi dan menyangkut pengelolaan keuangan daerah yang transparan, akuntabel, dan sesuai dengan prinsip-prinsip good governance. Wali Kota Sukabumi, Ayep Zaki, melakukan kunjungan kerja (Kunker) ke Badan Pemeriksa Keuangan (BPK) Perwakilan Jawa Barat di Bandung. Sein, (28/07/2025). Kunjungan tersebut juga, merupakan langkah strategis Pemkot Sukabumi dalam memperkuat tata kelola keuangan daerah, serta meningkatkan […]

  • Rhythm & Recipes, Panggung Bandung Menuju Kota Kreatif Kelas Dunia

    Rhythm & Recipes, Panggung Bandung Menuju Kota Kreatif Kelas Dunia

    • calendar_month Minggu, 7 Jun 2026
    • account_circle MBI Admin
    • visibility 321
    • 0Komentar

      BANDUNG,Mbinews  – Kota Bandung kembali menegaskan posisinya sebagai kota kreatif yang terbuka terhadap kolaborasi internasional. Melalui gelaran Rhythm & Recipes Consumer Experience, Pemerintah Kota Bandung memandang festival budaya dan kuliner bukan sekadar hiburan, melainkan sarana strategis untuk memperkuat diplomasi budaya, mengembangkan ekonomi kreatif, serta membuka peluang kerja sama global. Wakil Wali Kota Bandung, Erwin, […]

  • RKPD 2027 Memiliki Posisi Sangat Strategis Dalam Menentukan Arah Pembangunan

    RKPD 2027 Memiliki Posisi Sangat Strategis Dalam Menentukan Arah Pembangunan

    • calendar_month Selasa, 3 Feb 2026
    • account_circle MBI Admin
    • visibility 180
    • 0Komentar

    BANDUNG,Mbinews  — Wakil Ketua Komisi I DPRD Kota Bandung, Toni Wijaya S.E., S.H., menegaskan bahwa Rencana Kerja Pemerintah Daerah (RKPD) Tahun 2027 memiliki posisi yang sangat strategis dalam menentukan arah pembangunan Kota Bandung. Hal tersebut ia sampaikan pada kegiatan Konsultasi Publik Rancangan Awal RKPD Kota Bandung Tahun 2027, di Hotel Grandia, Bandung, Senin, 2 Februari […]

  • Orang Tua Wajib Pantau Kondisi Kesehatan Anak

    Orang Tua Wajib Pantau Kondisi Kesehatan Anak

    • calendar_month Rabu, 23 Okt 2019
    • account_circle mbiredaktur
    • visibility 157
    • 0Komentar

    BANDUNG, MBInews.id – Sebanyak 91 anak berusia 5-12 tahun di Kota Bandung tercatat mengalami gangguan kesehatan jiwa. Hal tersebut bisa terjadi karena berbagai faktor seperti genetik, biologis, trauma psikologis, dan stress pengaruh lingkungan. Hal itu terungkap saat, Pengelola Program Kesehatan jiwa Dinas Kesehatan Kota Bandung, Endang Pregiwati Ningsih memaparkan temuannya pada Bandung Menjawab di Ruang […]

  • Panpel HPN  2023:  Ramgkaian Kegiatan Hari Pers Nasional di Gelar di Kota Medan

    Panpel HPN 2023: Ramgkaian Kegiatan Hari Pers Nasional di Gelar di Kota Medan

    • calendar_month Kamis, 26 Jan 2023
    • account_circle mbiredaktur
    • visibility 145
    • 0Komentar

    JAKARTA, MbInews.id – Rangkaian kegiatan Peringatan Hari Pers Nasional (HPN) 2023 yang akan digelar di kota Medan, Sumatera Utara sudah disusun oleh Panpel HPN 2023. Ketua HPN 2023, H. Mirza Zulhadi mengatakan bahwa penyelenggaraan HPN di Kota Medan mendatang tetap mengagendakan beberapa program seperti Seminar. “Beberapa kegiatan sudah mantap kita rancang demi memeriahkan kegiatan peringatan […]

  • Komisi III DPRD Jawa Barat Dukung Evaluasi dan Monitoring BUMD

    Komisi III DPRD Jawa Barat Dukung Evaluasi dan Monitoring BUMD

    • calendar_month Senin, 13 Nov 2023
    • account_circle mbiredaktur
    • visibility 103
    • 0Komentar

    BANDUNG, mbinews.id — Komisi III DPRD Jawa Barat mendukung rencana Penjabat (Pj) Gubernur Jabar Bey Triadi Machmudin yang akan melakukan monitoring dan evaluasi kinerja Badan Usaha Milik Daerah (BUMD) secara rutin. “Kita (Komisi III DPRD Jawa Barat) sangat mendukung rencana Pak Bey Machmudin yang akan monitoring dan evaluasi kinerja BUMD secara rutin. Pansus V mendukung […]

expand_less