Narkoba Mengintai Generasi Muda Jabar, BNNP: Jangan Tunggu Masuk Keluarga
- account_circle MBI Admin
- calendar_month 7 jam yang lalu
- visibility 47
- comment 0 komentar
- print Cetak

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.
BANDUNG, Eljabar.com — Ancaman peredaran dan penyalahgunaan narkotika di Jawa Barat masih berada pada level serius. Dengan jumlah penduduk sekitar 51,7 juta jiwa, Jawa Barat dinilai menjadi wilayah strategis yang dimanfaatkan jaringan narkotika untuk memasok barang haram ke berbagai daerah di Indonesia.
Kepala Badan Narkotika Nasional Provinsi (BNNP) Jawa Barat Brigjen Pol. Sulistyo Pudjo Hartono, S.I.K., M.Si., mengatakan posisi geografis dan besarnya populasi Jawa Barat menjadikan provinsi ini memiliki kerawanan tinggi terhadap peredaran narkotika.
“Jawa Barat menjadi batu loncatan dari banyak kasus narkotika nasional,” ujar Sulistyo dalam podcast Basa Basi PWI Kota Bandung.
Menurut Sulistyo, sejumlah kasus besar pernah berhasil diungkap di Jawa Barat. Di antaranya pabrik PCC di Kawalu, Tasikmalaya, yang disebut mampu memproduksi jutaan pil setiap hari, serta pengungkapan pabrik narkotika lainnya di wilayah Cimahi.
BNNP Jawa Barat juga pernah menggagalkan peredaran narkotika dalam jumlah besar, termasuk pengungkapan sekitar lima ton ganja di Kota Bogor. 
Generasi Muda Jadi Kelompok Paling Rentan
Sulistyo menegaskan, perang melawan narkotika tidak boleh hanya berorientasi pada penangkapan bandar dan pengedar. Ancaman yang jauh lebih mengkhawatirkan adalah dampaknya terhadap generasi muda.
Ia mengungkapkan, pengguna narkotika yang menjalani layanan rehabilitasi BNN tidak sedikit yang masih berusia remaja. Bahkan, terdapat anak berusia 13 hingga 15 tahun yang sudah terpapar narkoba.
“Pengguna terbanyak itu generasi muda,” katanya.
Menurut Sulistyo, masyarakat sering kali baru menyadari bahaya narkoba setelah persoalan tersebut masuk ke dalam lingkungan keluarga. Padahal, peredaran narkotika dapat terjadi di tengah masyarakat dan menyasar berbagai kelompok.
Kondisi itu dinilai dapat menghambat upaya Jawa Barat meningkatkan kualitas sumber daya manusia.
Pemerintah terus mendorong peningkatan kualitas pendidikan. Namun, upaya tersebut akan kehilangan hasil apabila generasi muda yang telah dibekali pendidikan justru terjerumus dalam penyalahgunaan narkoba.
“Kalau upaya pendidikan yang tinggi ditarik lagi ke belakang oleh peredaran narkoba yang masif, tentu menjadi persoalan,” ujarnya.
Jalur Darat, Laut dan Udara Diawasi
Untuk memutus mata rantai peredaran narkotika, BNNP Jawa Barat memperkuat pengawasan terhadap berbagai jalur yang berpotensi digunakan jaringan pengedar, mulai dari jalur darat, laut hingga udara.
Sulistyo mengatakan keterbatasan sarana tidak boleh menjadi alasan untuk menghentikan pengawasan. Dalam operasi tertentu, BNN berkolaborasi dengan kepolisian dan berbagai pemangku kepentingan lainnya.
Wilayah pesisir selatan Jawa Barat, mulai Pangandaran hingga Garut, turut menjadi perhatian karena memiliki akses jalur laut yang berpotensi dimanfaatkan untuk transaksi narkotika.
Bahkan, nelayan tradisional dikhawatirkan dapat dimanfaatkan jaringan pengedar untuk melakukan transaksi di tengah laut.
Pengawasan juga dilakukan terhadap jalur penerbangan melalui pemeriksaan atau screening secara insidental berdasarkan momentum maupun informasi intelijen.
“Tidak ada ruang hukum di Indonesia yang tidak bisa dimasuki oleh BNN. Di mana pun potensi penyalahgunaan itu ada,” tegas Sulistyo.
Tak Ada yang Kebal Hukum
Sulistyo juga menegaskan bahwa tidak ada pihak yang memiliki kekebalan hukum dalam perkara narkotika.
Jabatan, profesi maupun akses tertentu, kata dia, tidak boleh menjadi celah bagi jaringan narkotika untuk menjalankan aksinya.
Ia mencontohkan pengungkapan kasus seorang pilot asal Malaysia yang membawa sabu dalam jumlah puluhan kilogram. Kasus tersebut menunjukkan bahwa jaringan narkotika dapat memanfaatkan berbagai profesi dan jalur untuk menyelundupkan barang haram.
“Secara prinsip hukum, tidak ada manusia yang kebal hukum,” ujarnya.
Masyarakat Diminta Tak Takut Lapor
Di sisi lain, Sulistyo mengajak masyarakat tidak takut berhubungan dengan BNN, terutama ketika membutuhkan bantuan rehabilitasi bagi anggota keluarga yang telah terpapar narkotika.
Ia menegaskan layanan rehabilitasi yang diberikan BNN kepada masyarakat tidak dipungut biaya.
“Rehabilitasi di BNN itu gratis. Semuanya gratis,” katanya.
Karena itu, keluarga yang memiliki anggota terpapar narkoba diminta tidak merasa malu ataupun takut mencari pertolongan.
Menurut Sulistyo, pengguna narkotika perlu mendapatkan penanganan dan rehabilitasi. Sementara sasaran utama penindakan hukum adalah bandar dan pengedar.
“Yang harus takut itu pengedar sama bandar,” tegasnya.
Lawan Narkoba Lewat Pupuh Sinom
Upaya pencegahan juga dilakukan BNNP Jawa Barat dengan menggunakan pendekatan budaya yang dekat dengan masyarakat, khususnya generasi muda.
Salah satunya melalui seni tradisional Sunda, yakni pupuh Sinom.
Sulistyo menjelaskan, Sinom dipilih karena secara filosofi berkaitan erat dengan fase kehidupan anak muda. Sejak dahulu, pupuh tersebut digunakan sebagai media menyampaikan nasihat dan pepeling kepada generasi muda.
Melalui pendekatan budaya itu, pesan mengenai bahaya narkoba diharapkan lebih mudah diterima dan diingat oleh anak-anak serta remaja.
“Nasihatnya ini untuk anak muda, agar mereka memiliki daya tangkal, daya tahan dan pengetahuan bahwa narkoba ini berbahaya,” jelasnya.
Program tersebut kemudian dikembangkan melalui lomba ngawih yang melibatkan ratusan peserta dari berbagai daerah di Jawa Barat.
Sulistyo menyebut sekitar 182 peserta yang terdiri dari seniman muda, remaja, pelajar dan seniman profesional terlibat dalam kegiatan tersebut.
Ia berharap pesan antinarkoba tidak berhenti sebagai kampanye sesaat, tetapi menjadi nilai yang tertanam sejak dini.
Pesan Tegas untuk Anak Muda
Menutup perbincangan, Sulistyo mengingatkan generasi muda agar berani menolak setiap tawaran menggunakan narkoba.
Menurutnya, modus peredaran narkotika kerap dimulai dengan memberikan narkoba secara gratis. Setelah korban mulai ketagihan, pengedar kemudian membuat pengguna bergantung hingga terlilit utang.
Karena itu, ia meminta generasi muda tidak takut dicap tidak gaul atau pengecut ketika menolak narkoba.
“Tidak apa-apa kalau dianggap cemen. Yang penting sehat,” pesannya.
Sulistyo juga mengajak masyarakat segera melaporkan apabila mengetahui adanya aktivitas peredaran narkotika di lingkungan sekitar.
Sebab, perang melawan narkoba tidak bisa hanya dibebankan kepada BNN dan aparat penegak hukum. Keterlibatan keluarga, sekolah, lingkungan dan masyarakat menjadi kunci untuk memutus mata rantai peredaran narkotika sekaligus melindungi generasi muda Jawa Barat.
“Jaga diri dan keluarga kita dari ancaman para bandar narkoba. Hidup sehat lebih baik daripada setelah terjerumus, untuk keluarnya juga berat,” pungkasnya. (*)


Saat ini belum ada komentar