72 Artefak Museum Prabu Siliwangi Dikurasi BRIN Jadi Katalog Ilmiah Nasional
- account_circle mbiredaktur
- calendar_month 6 jam yang lalu
- visibility 47
- comment 0 komentar
- print Cetak

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.
SUKABUMI,mbinews.id – Sebanyak 72 artefak keramik koleksi Museum Prabu Siliwangi Kota Sukabumi tengah melalui proses kurasi ketat untuk penyusunan katalog ilmiah. Proyek ini melibatkan peneliti dari Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) bersama Ikatan Ahli Arkeologi Indonesia (IAAI), dengan target penyelesaian pada Juli 2026.
Ahli Sejarah Masa Hindu-Buddha dan Keramologi BRIN, Yusmaini Eriawati, menjelaskan bahwa dari ratusan koleksi yang telah didokumentasikan, hanya sebagian yang akan masuk dalam katalog final.
“Dari hasil pemotretan awal, ada sekitar 72 objek yang sudah terekam. Nanti akan dipilih kembali sekitar 40 hingga 50 benda yang benar-benar menarik perhatian untuk masuk katalog final,” ujarnya, Rabu (3/6/2026).
Yusmaini menuturkan, koleksi keramik yang dikaji berasal dari berbagai wilayah dan periode sejarah, mulai dari Tiongkok, Jepang, Asia Tenggara, hingga Eropa. Salah satu koleksi yang dinilai langka adalah keramik Jepang jenis Satsuma.
Ia juga menyebutkan bahwa koleksi keramik Tiongkok di museum tersebut tergolong lengkap karena merepresentasikan berbagai dinasti besar.
“Keramik Cina di sini lengkap, ada dari masa Tang, Song Utara, Song Selatan, Yuan, Ming, Qing, hingga periode Republik. Itu yang membuat koleksi ini sangat representatif secara sejarah,” jelasnya.
Sementara itu, keramik Eropa yang terdapat dalam koleksi umumnya berasal dari abad ke-17 hingga ke-19, sejalan dengan periode perdagangan yang masuk ke Nusantara. Selain itu, terdapat pula satu artefak lokal berupa tembikar terakota masa Majapahit yang diperkirakan berasal dari abad ke-13 hingga 15.

Ahli Sejarah Masa Hindu-Buddha dan Keramologi BRIN, Yusmaini Eriawati
“Kami memasukkan satu koleksi lokal sebagai tambahan penting, yaitu terakota Majapahit. Ini penting untuk menunjukkan bahwa Nusantara juga memiliki tradisi keramik yang kuat,” tambahnya.
Proses penyusunan katalog ini tidak hanya bertujuan sebagai dokumentasi, tetapi juga sebagai sumber pengetahuan bagi publik dan dunia akademik. Katalog tersebut diharapkan dapat menjadi rujukan penelitian, termasuk bagi mahasiswa dan peneliti sejarah.
Saat ini, tim masih berada pada tahap seleksi visual dan dokumentasi fotografi sebelum berlanjut ke penyusunan narasi, sejarah, dan tata letak katalog di Jakarta. Setelah rampung, naskah akan dikonsultasikan kembali kepada pihak museum sebelum diterbitkan secara resmi dengan ISBN.
“Jika tidak ada kendala, katalog ini ditargetkan rampung pada Juli 2026,”kata Yusmaini.
Pemilik Museum Prabu Siliwangi, KH Fajar Laksana, menambahkan bahwa katalog ilmiah ini merupakan hasil penelitian keenam yang dilakukan terhadap koleksi museum.
“Ini bukan dibuat oleh pihak museum, tetapi oleh tenaga ahli yang ditunjuk BRIN. Ini menjadi alat edukasi dan akan diserahkan ke pemerintah untuk ditindaklanjuti apakah ditetapkan sebagai artefak dan cagar budaya atau tidak,” ujarnya.
Fajar menyebutkan, dari sekitar 1.000 koleksi keramik yang dimiliki museum, baru sekitar 200 yang telah diteliti. Meski demikian, hasil kajian tersebut sudah cukup menggambarkan perjalanan sejarah keramik di Indonesia.
“Dari jumlah itu saja sudah tergambar sejarah yang sangat luas,” ungkapnya.

Pemilik Museum Prabu Siliwangi, KH Fajar Laksana
Ia menambahkan, setelah katalog selesai, museum juga akan mengembangkan konsep storyline atau narasi sejarah berbasis koleksi keramik, yang mengaitkan periode sejarah Indonesia dari abad ke-10 hingga era modern.
“Bukan hanya memamerkan benda, tetapi menceritakan sejarahnya, siapa yang datang, dan bagaimana kehidupan saat itu,” jelasnya.
Selain itu, pengaruh keramik Eropa pada masa kolonial juga akan dimasukkan untuk menggambarkan dinamika perdagangan dan penjajahan di Indonesia. Namun, keterbatasan ruang pamer masih menjadi tantangan dalam pengembangan koleksi museum.
Fajar berharap, pengembangan museum berbasis riset ini dapat berdampak pada sektor pariwisata dan ekonomi daerah.
“Ini bisa menjadi keunggulan Sukabumi. Kota ini bisa menjadi tujuan wisata budaya karena memiliki koleksi yang sudah diteliti secara resmi dan ilmiah,”pungkasnya.ardan/wan/mbi.
- Penulis: mbiredaktur
Saat ini belum ada komentar