Bangun Karakter SDM, Ponpes Dzikir Al-Fath Sukabumi Terapkan 7 Habits For Islamic Character Building
- account_circle mbiredaktur
- calendar_month Rabu, 15 Mei 2024
- visibility 15
- comment 0 komentar
- print Cetak

Ponpes Dzikir Al-Fath Sukabumi, Gelar Seminar 7 Habits For Islamic Character Building
info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.
SUKABUMI,Mbinews.id– Membangun karakter Sumber Daya Manusia yang memiliki sifat dan kepribadian yang mencintai dan taat kepada agama islam dan negara Indonesia adalah sesuatu yang amat peting di Era Globalisasi. Untuk mewujudkan hal tersebut, Pondok Pesantren (Ponpes) Dzikir Al-Fath Sukabumi, menemukan sebuah metode atau formula untuk membentuk Sumber Daya Manusi (SDM) Berakhlak Mulia. Salah satunya dengan meenggunakan program 7 (seven) habits for islamic character building.
Pimpinan Ponpes Dzikir Al-Fath, Prof. DR. KH.Muhammad Fajar Laksana, mengungkapkan, 7 habits for islamic character building, dengan formula model 1D2T4S. Yakni, Dzikir, Tadarus, Tafakur, Sholat, Shaum, Sholawat, dan Shadaqoh. Ketujuh kebiasaan atau Seven Habits tersebut, telah dipraktekan pada sistem dan model pendidikan yang ada di Ponpes Dzikir Al-Fath, serta memiliki 24 cabang Majlis Dzikir Aurod Sholawat Al-Fath, yang telah menyatu dalam kehidupan sosial dan budaya di lingkungan pendidikan Pesantren Dzikir Al-Fath. sehingga dapat membangun model lingkungan Qoryah Thoyyibah Mubarokah.

Pimpinan Ponpes Dzikir Al-Fath, Prof. DR. KH.Muhammad Fajar Laksana
Sebenarnya, seven habits ini sudah dilaksanakan sejak 15 tahun lalu, bahkan pernah diterapkan juga saat membantu korban bencana alam di Cianjur beberapa Tahun lalu.
“Delapan bulan Ponpes memberikan pembinaan kepada masyarakat yang terkena bencana. Bagai mana menghilangkan trauma, membuat sekolah alam, membangun masjid dan membina warga dengan menggunakan dzikir berjemaah, tadarus Alquran, kajian tafakur, salat berjemaah, salat sunah, saum sunah, sedekah baju makanan dan memperbanyak solawat itu sudah kita seterapkan,”ujar Fajar usai menggelar Seminar 7 habits for islamic character building, di Aula Ponpes Modern Dzikir Al-Fath, Jalan Merbabu Perum Gading Kencana Asri, Kelurahan Karangtengah, Kecamatan Gunungpuyuh, Kota Sukabumi. Rabu, (15/5/2024).
Program yang digagasnya tersebut, bakal diterapkan di birokrasi, dan ini menunjukan visi misi Jawa Barat (Jabar) bisa terwujudkan, salah satunya membangun peribadatan yang menjadi pusat peradaban.
“Pusat peradaban itu, artinya bisa digunakan membantu di pemerintahan dalam mendiklat warga binaan untuk bisa melakukan perubahan khususnya mental spiritualnya,”terangnya.
Penerapan di kalangan birokrasi pemerintah, maksud Fajar, bisa dilakukan saat pemerintah menggelar diklat di bidang Pendidikan dan keterampilan. Di bidang ahlaknya yang beragama Islam, menggunan metode seven habits tersebut.

Pimpinan Ponpes Dzikir Al-Fath, Prof. DR. KH.Muhammad Fajar Laksana (kiri) Bersama Ketua Pembina 7 habits for Sslamic character building Ponpes Al-Fath Sukabumi, Tegus Hasbudi, Saat Meluncurkan Buku Metode 7 Habits For Islamic Character Building
“Di pemerintah suka ada diklatpim, nah sebagai salah satu pembinaan mental spritualnya kita terapkan program sevan habits ini,”papar Fajar.
Fajar berharap, melalui program seperti ini ponpes dapat terus berkontribusi dalam membangun karakter Islami di kalangan masyarakat.
“Kami mengajak semua pihak untuk mendukung dan ikut serta dalam memperkuat ajaran Islam di tengah masyarakat agar terciptanya kehidupan yang lebih baik dan harmonis,”katanya.
Sementara itu, Ketua Pembina 7 habits for Sslamic character building Ponpes Al-Fath Sukabumi, Tegus Hasbudi, mengungkapkan, dengan metoder seven habits tersebut, pernah diterapkan sejak dirinya menjabat sebagai Kepala Griya Binakarya Dinsos Provinsi Jawa Barat, dalam pembinaan mental spiritual atau spiritual pada kegiatan bimbingan social, fisik, mental, dan keterampilan Warga Binaan Sosial (WBS), tahun 2023 lalu.
“Alhamdulillah, dengan diterapkan metode seven habits tersebut, sekitar 50 jiwa binaan saya, berhasil membentuk sumber daya manusia yang berkarakter. Misalkan, dari tidak bisa mengaji menjadi bisa mengaji, sampai mereka bisa bersodaqoh,”singkatnya.ardan/wan/mbi.
- Penulis: mbiredaktur
Saat ini belum ada komentar