Farhan: Siskamling Bukan Sekadar Ronda, Tapi Garda Terdepan Mitigasi Bencana
- account_circle MBI Admin
- calendar_month Kamis, 9 Apr 2026
- visibility 12
- comment 0 komentar
- print Cetak

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.
BANDUNG,Mbinews – Pemerintah Kota Bandung terus memperkuat kesiapsiagaan masyarakat menghadapi berbagai potensi bencana melalui Program Siskamling Siaga Bencana. Program yang kini memasuki titik ke-88 tersebut kembali digelar di Kelurahan Sekejati, Rabu (8/4/2026), sebagai bagian dari upaya membangun budaya kewaspadaan dan ketahanan lingkungan berbasis masyarakat.
Berbeda dengan konsep ronda malam konvensional, Siskamling Siaga Bencana dirancang menjadi instrumen deteksi dini terhadap berbagai ancaman yang berpotensi mengganggu keselamatan warga, mulai dari cuaca ekstrem, banjir, pohon tumbang, hingga persoalan lingkungan lainnya yang dapat berkembang menjadi bencana.
Wali Kota Bandung, Muhammad Farhan, menegaskan bahwa program ini sejak awal memang disiapkan untuk memperkuat kemampuan masyarakat dalam mengantisipasi risiko bencana yang semakin kompleks akibat perubahan cuaca dan dinamika lingkungan perkotaan.
“Sejak awal, Siskamling ini memang kita rancang sebagai siaga bencana. Kita merasakan sendiri bagaimana cuaca ekstrem dalam beberapa waktu terakhir menyebabkan pohon tumbang hingga mengganggu aktivitas warga,” ujarnya.
Menurut Farhan, perubahan pola cuaca yang terjadi dalam beberapa tahun terakhir menuntut pemerintah dan masyarakat untuk memiliki kesiapan yang lebih baik. Hujan dengan intensitas tinggi, angin kencang, serta berbagai fenomena cuaca ekstrem lainnya dapat terjadi sewaktu-waktu dan menimbulkan dampak yang cukup besar bagi kehidupan masyarakat.
Ia mencontohkan kejadian cuaca ekstrem yang melanda sejumlah wilayah Kota Bandung beberapa hari sebelumnya. Peristiwa tersebut menyebabkan sejumlah pohon besar tumbang dan mengganggu aktivitas warga di berbagai titik kota.
Meski demikian, Farhan mengapresiasi respons cepat perangkat daerah yang mampu melakukan penanganan secara sigap sehingga kondisi kota dapat kembali normal dalam waktu relatif singkat.
“Kota Bandung relatif cepat pulih. Namun kewaspadaan harus tetap kita jaga karena potensi cuaca ekstrem masih ada,” katanya.
Selain berfungsi sebagai sarana mitigasi bencana, program Siskamling Siaga Bencana juga menjadi forum komunikasi antara pemerintah dan masyarakat dalam mengidentifikasi berbagai persoalan kewilayahan yang membutuhkan penanganan segera.
Dalam dialog bersama warga, berbagai persoalan mengemuka, mulai dari ancaman banjir akibat luapan sungai, kondisi jalan yang memerlukan perbaikan, saluran drainase yang tersumbat, hingga kebutuhan penerangan jalan umum di sejumlah titik lingkungan.
Farhan menilai keterlibatan aktif warga di tingkat Rukun Warga (RW) menjadi faktor penting dalam mendukung pembangunan yang tepat sasaran. Sebab, masyarakat merupakan pihak yang paling memahami kondisi dan kebutuhan di wilayahnya masing-masing.
“Sekarang arah pembangunan kita berbasis data. Kita tidak ingin semua diseragamkan karena setiap wilayah memiliki karakter dan persoalan yang berbeda,” jelasnya.
Ia menjelaskan bahwa berbagai masukan dan informasi dari masyarakat akan dipadukan dengan data yang dihimpun melalui program Laci RW. Data tersebut menjadi dasar penting bagi pemerintah dalam menyusun kebijakan yang lebih akurat dan sesuai kebutuhan riil warga.
Pendekatan berbasis data dan kewilayahan ini dinilai mampu meningkatkan efektivitas pembangunan sekaligus mempercepat penyelesaian berbagai persoalan yang selama ini dihadapi masyarakat.
Menanggapi berbagai aspirasi yang disampaikan warga, Farhan memastikan seluruh laporan akan ditindaklanjuti oleh perangkat daerah terkait melalui survei teknis di lapangan. Hasil survei tersebut nantinya akan menjadi dasar dalam menentukan prioritas penanganan.
“Kita petakan satu per satu. Semua akan disurvei dan ditindaklanjuti sesuai prioritas,” tegasnya.
Lebih jauh, Farhan mengajak seluruh elemen masyarakat untuk terus menghidupkan semangat gotong royong sebagai modal utama dalam menjaga lingkungan dan menghadapi berbagai tantangan di tingkat kewilayahan.
Menurutnya, keberhasilan mitigasi bencana tidak hanya bergantung pada pemerintah, tetapi juga memerlukan partisipasi aktif masyarakat dalam menjaga lingkungan, melaporkan potensi risiko, serta membangun kesadaran kolektif untuk saling membantu ketika terjadi keadaan darurat.
“Siskamling ini bukan hanya soal ronda, tetapi bagaimana kita bersama-sama menjaga lingkungan dan mengantisipasi risiko sejak dini,” tuturnya.
Melalui Program Siskamling Siaga Bencana, Pemerintah Kota Bandung berharap mampu membangun sistem kewaspadaan berbasis masyarakat yang lebih kuat, responsif, dan berkelanjutan. Dengan keterlibatan aktif warga serta dukungan data yang akurat, berbagai potensi risiko dapat dideteksi lebih awal sehingga dampak yang ditimbulkan dapat diminimalkan.
Program ini sekaligus menjadi bukti bahwa upaya menjaga keamanan lingkungan, meningkatkan ketahanan masyarakat, dan membangun budaya mitigasi bencana dapat berjalan beriringan melalui semangat kebersamaan dan gotong royong yang menjadi kekuatan utama masyarakat Kota Bandung.
Saat ini belum ada komentar