Breaking News
Trending Tags

Menolak ‘Mati’, Kampoeng Radjoet Binong Jati Lakukan Lompatan Ekonomi Dengan Digitalisasi

  • account_circle mbiredaktur
  • calendar_month Rabu, 6 Apr 2022
  • visibility 161
  • comment 0 komentar
  • print Cetak

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.

BANDUNG, Mbinews.id – Pakaian rajut yang dulunya identik dengan orang sakit, lanjut usia, atau hanya dipakai di musim dingin, sekarang telah beralih menjadi tren pakaian keseharian.

Mulai dari ciput, kerudung, konektor masker, sweater, cardigan, rok, sampai kaus kaki sudah menjadi produk industri kreatif rajut.

Melihat peluang ini, para perajut di Kampoeng Radjoet Binong Jati Bandung pun membuat produk mereka menjadi lebih variatif. Perlahan tapi pasti, mereka mulai bertumbuh. Namun, di awal pandemi menyerang, Kampoeng Radjoet sempat goyah.

Koordinator Kampoeng Radjoet, Eka Rahmat Jaya membagikan kisah para perajut Binong Jati yang bangkit dari keterpurukan ekonomi.

Ditemui di rumah produksinya, Eka menceritakan bagaimana perjuangan para perajut di tengah pandemi Covid-19.

Sebagai generasi ketiga yang mewarisi usaha rajut, Eka menyampaikan, sejak tahun 1970-an tempat ini bernama Sentra Rajut.

Namun, rebranding jadi Kampoeng Radjoet pada tahun 2014. Terhitung ada 400 perajut yang bertahan hidup di sini. Saat itu, satu perajut memiliki 10-20 karyawan. Jadi, ada sekitar 4.000 tenaga kerja yang diserap.

“Perkembangan rajut di masa pandemi memang awal sempat turun. Apalagi ada transformasi digitalisasi ya sejak pandemi, itu terasa banget. Banyak yang kesulitan juga untuk menyesuaikan, terutama dari kalangan yang sudah senior-senior seangkatan bapak saya,” ujar Eka.

Dulu, para perajut berjualan kaki lima atau dengan menitipkan melalui jejaring mereka di Pasar Baru dan Tanah Abang. Namun, kini pilihannya hanya ada dua, terus bergerak dan berubah menyesuaikan zaman, atau tetap bertahan dengan cara lama, tapi berujung gulung tikar.

“Pas pandemi melonjak, pasar-pasar ini kan pada tutup ya. Kita harus putar otak, akhirnya dicobalah beralih ke digital. Memang sulit, tapi lama-lama jadi bisa baca polanya, yang penting main di konten dan branding,” akunya.

“Dari jualan online, usaha saya sendiri saja semasa pandemi minimal Rp1 miliar per bulan. Kalau Kampoeng Radjoet ini bisa lebih berkali lipat karena kita upload juga lewat marketplace,” imbuh Eka.

Bahkan, Eka mengaku, jika dibandingkan dengan sentra usaha lainnya, Kampoeng Radjoet malah kebanjiran pesanan di masa pandemi. Apalagi sekarang pakaian rajut sudah menjadi fesyen sehari-hari.

Di Ramadan ini, Kampoeng Radjoet Binong Jati juga mengalami kenaikan penjualan. Sejak terjun ke dunia digital, dalam satu tahun trafficnya bisa tiga kali mengalami kenaikan.

Dulu, 90 persen pemasukan dari offline, 10 persen dari online. Namun, kini sebaliknya, online menjadi ceruk utama mesin-mesin di Kampoeng Radjoet tetap hidup.

“Terutama di Ramadan ya, itu pasti. Khususnya di pakaian kasual dan hijab yang biasanya pembeliannya naik. Para reseller saya dari TKI dan TKW di Singapura dan Malaysia juga sering minta tambah stok. Kita juga sempat ekspor 50.000 lusin kupluk ke Amerika,” paparnya.

Meski sempat merasakan angin segar, Eka mengatakan, akhir-akhir ini para perajut dihadapkan dengan harga bahan baku benang acrylic wool yang semakin mahal.

“Ya ini dampak dari demand atau permintaannya fesyen rajut naik juga. Jadi, bahan bakunya pun naik,” ungkapnya.

Agar tetap bertahan tanpa menjatuhkan harga produk, Eka mengatakan pentingnya branding dan konten media sosial. Para perajut juga harus rajin mencari tren yang sedang ramai di media sosial.

Namun, Eka mengakui, jika masih terjadi kesenjangan pengetahuan dan keahlian untuk terjun ke dunia digital. Maka dari itu, ia melakukan kerja sama dengan beberapa kampus di Kota Bandung untuk mengajak mahasiswa magang lewat program ‘Sekolah Rajut’.

Beberapa kampus yang ia ajak kerja sama antara lain Unpar, Unpad, Unpas, Telkom University, Unibi, Politeknik Ganesha, dan kampus lain yang memiliki fakultas tekstil seperti ITB dan STT Tekstil.

“Anak muda itu keren-keren idenya. Mereka juga melek teknologi, beda lah dengan generasi kami. Saya ingin anak muda senang dan mau bantu kembangkan rajut Binong Jati,” katanya.

“Saya kerja sama dengan kampus-kampus untuk belajar bareng digital marketing. Mereka bikin konten dan brandingnya, kita sediakan produknya,” imbuh Eka.

Tak hanya dengan akademisi, Eka juga menggait komunitas untuk meluaskan informasi tentang Kampoeng Radjoet di ranah digital. Sebab baginya, kebiasaan masyarakat sekarang sudah bergeser pula ke arah digital. Semua informasi bisa diperoleh dari Google, Instagram, Tiktok, dan Youtube.

Bukan hanya dari strategi marketing yang mengarah ke digitalisasi, Eka berpendapat, produksi pun harus mulai berkembang menggunakan teknologi berbasis computerized. Sampai saat ini, para pengrajut masih menggunakan mesin yang dijalankan secara manual.

“Sehari itu bisa jadi satu lusin kalau pakai mesin manual. Kalau kita pakai computerized bisa tiga kali lipatnya atau lebih. Tapi tentu SDM-nya harus diupgrade juga. Harus tahu cara mengoperasikan mesin komputer ini,” tuturnya di sela-sela suara mesin rajut yang terdengar jelas dari ruang produksi.

Eka berharap, dengan terdigitalisasi semua kegiatan produksi di Kampoeng Radjoet kedepannya, bisa semakin meramaikan desa Binong Jati. Sehingga semakin banyak pula orang yang datang berwisata dan membeli produk mereka.

“Kalau rajut terus rame, kampung ini juga akan terus keangkat, yang tadinya UMKM itu usaha kecil menengah, jadi usaha kecil milyaran mudah-mudahan ya,” harapnya.

Di sini, semua hasil produk para perajut disentralisasi pada satu toko bernama Galeri Kampoeng Radjoet. Toko ini dikelola oleh Eka dan timnya, beserta beberapa mahasiswa magang. Salah satunya Dani, mahasiswa semester 6 Jurusan Administrasi Bisnis Unpar.

Selama empat bulan mereka akan membantu memasarkan produk-produk Kampoeng Radjoet melalui media sosial dan marketplace.

Dani mengaku, selama sebulan mengoptimasi media sosial, pengikut Instagram Kampoeng Radjoet mengalami kenaikan lebih dari 1.000 orang.

Hal ini juga berdampak pada penjualan mereka di marketplace. Dalam sehari, mereka bahkan bisa menjual 1.000 pakaian per hari dengan kisaran harga Rp40.000-Rp150.000.

“Para reseller juga suka minta tambah stok sampai 2.000-5.000 item per bulan. Kang Eka juga kasih kami target, sebulan 10.000 item terjual. Ya alhamdulillah mendekati target, kita bisa 5.000-7.000 item per bulan,” kata Dani.

Setelah hampir dua bulan magang di Kampoeng Radjoet, Dani semakin tertarik membantu para perajut untuk lebih melek teknologi dan mengembangkan Binong Jati menjadi desa wisata.

“Ini sebenarnya sudah jadi desa wisata ya. Tapi, memang kita harus terus ajak masyarakat untuk mau membuka diri dan mengembangkan pemikirannya. Supaya desa ini menjadi desa wisata yang lebih layak,” tutur Dani. (din-pipi)

  • Penulis: mbiredaktur

Komentar (0)

Saat ini belum ada komentar

Silahkan tulis komentar Anda

Email Anda tidak akan dipublikasikan. Kolom yang bertanda bintang (*) wajib diisi

Rekomendasi Untuk Anda

  • Kontribusi Perda Pesantren Untuk Meningkatkan SDM

    Kontribusi Perda Pesantren Untuk Meningkatkan SDM

    • calendar_month Jumat, 7 Jun 2024
    • account_circle mbiredaktur
    • visibility 158
    • 0Komentar

    Kota Depok, Mbinews.id — Keberadaan pondok pesantren turut mempersiapkan sumber daya manusia Indonesia yang memiliki ilmu pengetahuan handal dengan dilandasi iman dan takwa serta kokoh. Khususnya di Provinsi Jawa Barat, pondok pesantren sangat berperan besar dalam mencerdaskan anak bangsa melalui pendidikan agama. Hal itu menjadi fokus sosialisasi Anggota DPRD Provinsi Jawa Barat Hasbullah Rahmad saat […]

  • Termakan Usia, Armada Pengangkut Sampah DLH Kota Sukabumi Banyak Yang Rusak

    Termakan Usia, Armada Pengangkut Sampah DLH Kota Sukabumi Banyak Yang Rusak

    • calendar_month Sabtu, 10 Agt 2024
    • account_circle mbiredaktur
    • visibility 152
    • 0Komentar

    SUKABUMI, Mbinews.id – Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kota Sukabumi membeberkan bahwa, saat ini diakui banyak armada kendaraan pengangkut sampah yang mengalami kerusakan, maupun sudah tidak layak pakai. Tentunya, dengan banyaknya armada yang rusak tersebut, akan mempengaruhi pelayanan DLH Kota Sukabumi, untuk melakukan pengambilan sampah ke Masyarakat di setiap harinya. Kepala Bidang Kepala Bidang Pengelolaan Sampah, […]

  • DPRD Jawa Barat Gelar Rapat Paripurna, Bahas Persetujuan Propemperda, Perubahan Renja hingga Pelantikan

    DPRD Jawa Barat Gelar Rapat Paripurna, Bahas Persetujuan Propemperda, Perubahan Renja hingga Pelantikan

    • calendar_month Minggu, 10 Nov 2024
    • account_circle mbiredaktur
    • visibility 131
    • 0Komentar

    Kota Bandung, Mbinews.id — DPRD Provinsi Jawa Barat kembali menggelar rapat paripurna membahas 3 agenda penting. Tiga agenda penting tersebut diantaranya; agenda pertama laporan Badan Pembentukan Peraturan Daerah (Bapemperda), persetujuan DPRD terhadap Program Pembentukan Peraturan Daerah (Propemperda) 2025, dan sambutan Penjabat (Pj) Gubernur Jawa Barat Bey Triadi Machmudin. Agenda kedua, penetapan perubahan Rencana Kerja (Renja) […]

  • IKWI Kabupaten Bandung – DWP Diskominfo Bagikan Ratusan Takjil Gratis untuk Warga yang Ngabuburit

    IKWI Kabupaten Bandung – DWP Diskominfo Bagikan Ratusan Takjil Gratis untuk Warga yang Ngabuburit

    • calendar_month Sabtu, 6 Apr 2024
    • account_circle MBI Admin
    • visibility 131
    • 0Komentar

    KAB. BANDUNG, MBINews.id – Ikatan Keluarga Wartawan Indonesia (IKWI) Kabupaten Bandung kembali menggelar rangkaian kegiatan Ramadan Berkah IKWI Berbagi, dengan membagikan ratusan paket takjil untuk berbuka puasa kepada warga yang sedang ngabuburit di sekitar Masjid Al Fathu Soreang, Jumat (5/4/2024). Istimewanya, pada giat bagi-bagi takjil gratis kali ini, IKWI berkolaborasi dengan Dharma Wanita Dinas Komunikasi […]

  • PLH Kota Bandung Hadiri Rangkaian HUT Ke 77 Polri

    PLH Kota Bandung Hadiri Rangkaian HUT Ke 77 Polri

    • calendar_month Sabtu, 1 Jul 2023
    • account_circle mbiredaktur
    • visibility 152
    • 0Komentar

    BANDUNG, Mbinews – Pelaksana Harian Wali Kota Bandung, Ema Sumarna menghadiri upacara dan syukuran Hari Ulang Tahun ke-77 Bhayangkara Polri di Lapangan Gasibu, Kota Bandung, Sabtu 1 Juli 2023. Atas nama Pemerintah Kota (Pemkot) Bandung, Ema mengucapkan selamat ulang tahun ke-77 Bhayangkara Polri. Ia berharap Pemkot Bandung dan Polri sama-sama menjaga semangat memberikan pelayanan terbaik […]

  • Wali Kota Bandung Dorong Pramuka Jadi Garda Depan Mitigasi Bencana dan Pendidikan Karakter

    Wali Kota Bandung Dorong Pramuka Jadi Garda Depan Mitigasi Bencana dan Pendidikan Karakter

    • calendar_month Kamis, 22 Mei 2025
    • account_circle mbiredaktur
    • visibility 147
    • 0Komentar

    BANDUNG,Mbinews — Wali Kota Bandung Muhammad Farhan mendorong peran strategis Gerakan Pramuka dalam pembangunan karakter generasi muda dan penanggulangan bencana. Hal itu disampaikannya dalam sambutan pada acara Pelantikan Ketua Kwartir Cabang (Kwarcab) Gerakan Pramuka Kota Bandung di Pendopo, Kamis (22/05/2025). Farhan yang juga dilantik sebagai Ketua Majelis Pembimbing Cabang (Mabicab) mengatakan, Pramuka bukan sekadar organisasi […]

expand_less