Jamkrindo Dorong Penyandang Disabilitas Naik Kelas Lewat Harmoni Karya Inklusif
- account_circle mbiredaktur
- calendar_month 1 jam yang lalu
- visibility 23
- comment 0 komentar
- print Cetak

Oplus_16908288
info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.
SUKABUMI, Mbinews.id– PT Jaminan Kredit Indonesia (Persero) atau Jamkrindo terus memperkuat komitmennya dalam mendorong terciptanya masyarakat inklusif melalui program pemberdayaan penyandang disabilitas bertajuk “Harmoni Karya Inklusif”. Kegiatan yang digelar di Taman Cimanuk Adiarsa, Kabupaten Karawang, pada 21–23 Agustus 2026 tersebut diarahkan untuk meningkatkan keterampilan sekaligus membuka peluang ekonomi bagi penyandang disabilitas.
Sekretaris Perusahaan Jamkrindo, Akhmad Albaasithu, mengatakan pemberdayaan penyandang disabilitas tidak semestinya berhenti pada pemberian pelatihan. Menurutnya, program pemberdayaan perlu diarahkan pada terciptanya kesempatan bagi penyandang disabilitas untuk berkembang, menghasilkan karya, serta memperoleh akses terhadap peluang ekonomi yang berkelanjutan.
“Kami ingin memastikan setiap individu memiliki kesempatan untuk berkembang dan memberikan nilai. Melalui Harmoni Karya Inklusif, kami mendorong penyandang disabilitas agar semakin percaya diri dalam mengembangkan potensinya, sekaligus membuka peluang agar karya yang dihasilkan memiliki nilai ekonomi,” ujar Akhmad dalam keterangan tertulis, Senin (25/8/2026).
Mengusung subtema “Inklusif Berkarya Tanpa Batas, Bersama Merajut Masa Depan”, program tersebut dirancang tidak hanya untuk meningkatkan keterampilan peserta, tetapi juga memperkuat kepercayaan diri, kemandirian, dan kapasitas ekonomi penyandang disabilitas.
Jamkrindo juga menekankan pentingnya keberlanjutan setelah kegiatan pelatihan berakhir. Karena itu, keterampilan yang diperoleh peserta diarahkan untuk dikembangkan menjadi produk bernilai tambah yang memiliki peluang untuk dipasarkan.
Adapun rangkaian Harmoni Karya Inklusif meliputi pelatihan membatik, pelatihan menjahit, serta pameran dan lomba hasil karya penyandang disabilitas. Pelatihan membatik diikuti oleh 20 peserta penyandang disabilitas dengan materi pengembangan motif khas Karawang.
Akhmad menjelaskan, Jamkrindo turut mempertemukan peserta pelatihan membatik dan menjahit melalui skema business matching. Langkah tersebut diharapkan dapat membentuk kolaborasi dari sisi produksi hingga pengembangan produk siap jual.
“Kami ingin membangun ekosistem yang memungkinkan keterampilan berkembang menjadi kegiatan produktif. Karena itu, peserta pelatihan membatik dan menjahit dipertemukan melalui business matching agar kain yang dihasilkan dapat dikembangkan menjadi produk siap pakai,” jelasnya.
Melalui skema tersebut, kain batik hasil karya peserta dapat diolah menjadi beragam produk, mulai dari pakaian, tas, aksesori, hingga produk kreatif lainnya. Pola kolaborasi ini sekaligus diarahkan untuk membangun rantai nilai usaha yang melibatkan penyandang disabilitas secara langsung, sejak proses produksi hingga pengembangan produk.
Menurut Akhmad, pendekatan tersebut menjadi bagian penting agar program pemberdayaan tidak berhenti pada peningkatan keterampilan semata. Peserta diharapkan memiliki ruang untuk mengembangkan produk, membangun jejaring, serta memperkenalkan hasil karyanya kepada pasar.
“Kami ingin agar program pemberdayaan tidak berhenti ketika pelatihan selesai. Ada proses lanjutan berupa kolaborasi, pengembangan produk, dan pengenalan karya kepada pasar. Dengan begitu, peserta memiliki peluang untuk terus berkarya dan semakin mandiri secara ekonomi,” ungkapnya.
Sebagai rangkaian puncak kegiatan, Jamkrindo menyelenggarakan pameran dan lomba karya penyandang disabilitas yang mencakup fashion show, display hasil karya, penjurian, penampilan seni, serta pemberian penghargaan kepada peserta.
Kegiatan tersebut menjadi ruang apresiasi sekaligus sarana memperkenalkan potensi dan kualitas karya penyandang disabilitas kepada masyarakat luas, pemerintah, dunia usaha, komunitas, maupun calon mitra pemasaran.
Akhmad menegaskan, terciptanya ekosistem inklusif membutuhkan keterlibatan berbagai pihak. Menurutnya, dukungan masyarakat, pemerintah, dunia usaha, dan komunitas diperlukan untuk membuka akses yang lebih luas bagi penyandang disabilitas agar dapat mengembangkan potensi sekaligus memperkuat kemandirian ekonominya.
“Inklusivitas akan semakin bermakna ketika masyarakat, pemerintah, dunia usaha, dan komunitas bersama-sama membuka akses dan menciptakan kesempatan. Kami berharap semakin banyak pihak melihat bahwa karya penyandang disabilitas memiliki kualitas dan potensi untuk terus dikembangkan,” pungkas Akhmad.ardan/mbi
- Penulis: mbiredaktur


Saat ini belum ada komentar