Museum Keramik dan Gedung Baru Museum Prabu Siliwangi Diresmikan, Ponpes Al-Fath Perkuat Pelestarian Budaya Nusantara
- account_circle mbiredaktur
- calendar_month Kamis, 6 Agt 2026
- visibility 221
- comment 0 komentar
- print Cetak

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.
SUKABUMI, Mbinews.id – Pondok Pesantren (Ponpes) Dzikir Al-Fath Kota Sukabumi terus memperkuat perannya sebagai pusat pelestarian sejarah dan budaya Nusantara. Hal itu ditandai dengan peresmian Museum Keramik serta gedung baru Museum Prabu Siliwangi yang digelar di lingkungan Ponpes Al-Fath, Kamis (6/8/2026).
Peresmian tersebut dihadiri Direktur Jenderal Perlindungan Kebudayaan dan Tradisi Kementerian Kebudayaan Republik Indonesia, Dr. Restu Gunawan, serta Wakil Wali Kota Sukabumi Bobby Maulana. Kehadiran dua tokoh tersebut menjadi bentuk dukungan terhadap upaya pelestarian benda bersejarah dan budaya lokal yang dilakukan Ponpes Al-Fath.
Direktur Jenderal Perlindungan Kebudayaan dan Tradisi Kementerian Kebudayaan Republik Indonesia, Dr. Restu Gunawan mengatakan, keberadaan museum di lingkungan pesantren memiliki peran strategis, bukan hanya sebagai tempat penyimpanan koleksi bersejarah, tetapi juga sebagai pusat perlindungan cagar budaya dan warisan budaya takbenda.
“Keberadaan museum bukan sekadar menyimpan benda bersejarah, tetapi bagaimana museum mampu menjaga nilai budaya agar tetap hidup dan dapat diwariskan kepada generasi mendatang,”ujar Restu.
Ia menjelaskan, seluruh koleksi yang berada di Museum Prabu Siliwangi telah diperkuat melalui proses penelitian ilmiah bersama Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN). Tahapan penelitian meliputi identifikasi, pengelompokan berdasarkan periode sejarah, hingga penyusunan katalog koleksi.
“Dengan adanya penelitian ilmiah, setiap artefak memiliki data akademik yang dapat dipertanggungjawabkan, sehingga masyarakat dapat memahami nilai sejarah yang terkandung di dalamnya,”katanya.
Menurut Restu, Museum Prabu Siliwangi juga diarahkan menjadi ruang pembelajaran terbuka bagi masyarakat melalui konsep living museum. Pengunjung tidak hanya melihat koleksi sejarah, tetapi juga dapat menyaksikan langsung proses pembuatan senjata tradisional dan teknologi logam warisan leluhur.
Ia menambahkan, keberhasilan pelestarian budaya sangat bergantung pada keterlibatan generasi muda. Di Ponpes Al-Fath, proses regenerasi budaya dilakukan melalui keterlibatan para empu muda yang meneruskan keterampilan tradisional.

“Budaya tidak boleh berhenti hanya sebagai koleksi di dalam museum. Budaya harus tetap hidup melalui praktik dan keterampilan yang diwariskan secara berkelanjutan,”tuturnya.
Wakil Wali Kota Sukabumi, Bobby Maulana, mengapresiasi peresmian Museum Keramik dan gedung baru Museum Prabu Siliwangi. Menurutnya, keberadaan museum tersebut menjadi langkah penting dalam memperkuat pelestarian sejarah, budaya, dan kearifan lokal Kota Sukabumi.
“Pemkot Sukabumi menyambut baik hadirnya museum ini karena tidak hanya menjadi pusat edukasi, tetapi juga memiliki potensi besar sebagai destinasi wisata budaya,”ungkap Bobby.
Ia mengatakan, Pemerintah Kota Sukabumi akan mengintegrasikan pengembangan museum tersebut dengan program Sukabumi Tourism melalui konsep museum itinerary. Program tersebut akan menghubungkan berbagai museum di Kota Sukabumi sebagai rangkaian destinasi wisata edukatif.
“Kami berharap keberadaan museum ini dapat memperkuat identitas Kota Sukabumi sebagai daerah yang mampu menggabungkan nilai sejarah, pendidikan, dan pariwisata,”jelasnya.
Pimpinan Ponpes Modern Al-Fath KH. Fajar Laksana, mengungkapkan, pembangunan gedung baru Museum Prabu Siliwangi merupakan bagian dari pengembangan fasilitas setelah hasil penelitian BRIN menunjukkan tingginya nilai historis koleksi yang dimiliki.

“Koleksi keramik kami pisahkan dalam museum tersendiri agar penataan dan penyajiannya dapat lebih maksimal serta memberikan pengalaman edukasi yang lebih baik bagi pengunjung,”kata Fajar.
Ia menjelaskan, Museum Keramik saat ini memiliki ratusan koleksi yang telah berhasil diidentifikasi berasal dari berbagai dinasti di Tiongkok hingga kawasan Timur Tengah. Koleksi tersebut diperkirakan memiliki usia antara abad ke-8 hingga abad ke-10 Masehi.
“Temuan ini menunjukkan adanya jejak hubungan perdagangan Nusantara dengan dunia internasional pada masa lampau,” ucapnya.
Fajar menambahkan, proses penelitian terhadap koleksi keramik masih terus berjalan. Dari sekitar 1.000 koleksi yang dimiliki museum, sekitar 500 koleksi masih menunggu proses kajian lebih lanjut oleh BRIN.

Sementara koleksi yang telah selesai diidentifikasi telah dibukukan dalam Katalog Keramik sebagai referensi ilmiah bagi peneliti maupun masyarakat umum.
Selain koleksi keramik, Museum Prabu Siliwangi juga menyimpan berbagai peninggalan budaya seperti keris, kujang, golok, hingga temuan batu megalitik yang telah melalui penelitian bersama BRIN.
Melalui pengembangan museum tersebut, Fajar berharap, pelestarian budaya tidak hanya berhenti pada penyelamatan benda bersejarah, tetapi juga menjadi sarana pendidikan, penelitian, serta penguatan identitas bangsa yang dapat diakses masyarakat luas.
“Keberadaan museum ini bukan hanya untuk menyimpan peninggalan sejarah, tetapi juga menjadi ruang belajar bagi masyarakat agar semakin mengenal dan menghargai budaya bangsa,”pungkasnya.ardan/mbi.
- Penulis: mbiredaktur
Saat ini belum ada komentar