55 Mahasantri Al-Fath Diberangkatkan ke Luar Negeri, Pemkot Apresiasi Upaya Tekan Pengangguran
- account_circle mbiredaktur
- calendar_month Sabtu, 18 Apr 2026
- visibility 184
- comment 0 komentar
- print Cetak

Pimpinan Ponpes Dzikir Al-Fath Sukabumi, KH. Fajar Laksana
info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.
SUKABUMI,Mbinews.id- Pondok Pesantren Dzikir Al-Fath Sukabumi kembali memberangkatkan 55 mahasantri untuk bekerja ke sejumlah negara seperti Turki, Jepang, dan Madinah. Pelepasan dan doa bersama tersebut digelar di aula pesantren pada Jumat (17/4/2026), dan dihadiri Wakil Wali Kota Sukabumi, Bobby Maulana.
Kegiatan ini menjadi bagian dari program penyiapan tenaga kerja muda sekaligus upaya peningkatan kualitas sumber daya manusia (SDM) serta pengurangan angka pengangguran di Kota Sukabumi yang saat ini masih berada di angka 8,99 persen.
Wakil Wali Kota Sukabumi, Bobby Maulana, mengapresiasi langkah Ponpes Dzikir Al-Fath yang dinilai sejalan dengan program pemerintah daerah dalam membuka lapangan kerja.
“Kegiatan yang diselenggarakan Ponpes Dzikir Al-Fath ini sangat luar biasa. Ide dari Pak Kyai ini sejalan dengan program pemerintah, terutama dalam mengurangi jumlah pengangguran,” ujar Bobby.
Ia menambahkan, pemerintah daerah saat ini juga tengah melakukan berbagai upaya, mulai dari menarik investor, peninjauan lahan, hingga menjalin kerja sama dengan kementerian terkait dan Lembaga Pelatihan Kerja (LPK) di Kota Sukabumi.
Menurutnya, kolaborasi dengan pesantren tersebut telah menghasilkan dampak nyata. “Dengan yang sudah berjalan bersama Ponpes Dzikir Al-Fath, totalnya sudah mencapai 191 orang. Mudah-mudahan ke depan terus bertambah,” katanya.

Sementara itu, Pimpinan Ponpes Dzikir Al-Fath, KH. Fajar Laksana, menyebut pemberangkatan kali ini merupakan yang ketiga sepanjang tahun 2026 dengan total sekitar 500 mahasantri yang telah diberangkatkan.
“Tahun ini sudah tiga kali pemberangkatan, totalnya sekitar 500 orang. Bahkan kami masih kekurangan SDM karena job order tahun ini mencapai 3.500 orang,” ungkapnya.
Ia menjelaskan, permintaan tenaga kerja datang dari berbagai negara, tidak hanya Turki, Jepang, dan Timur Tengah seperti Kuwait, Mesir, Jeddah, Makkah, dan Madinah, tetapi juga negara Eropa dan Oseania seperti Albania, Slovakia, Serbia, hingga Selandia Baru.
KH. Fajar menegaskan, kendala utama bukan pada peluang kerja, melainkan kesiapan sumber daya manusia. Karena itu, pihaknya mewajibkan calon pekerja mengikuti pendidikan dan pelatihan di pesantren selama satu tahun secara gratis.
“Calon pekerja migran harus mondok, berakhlak baik, tidak terlibat narkoba, dan siap dididik,”tegasnya.
Ia juga menambahkan bahwa para alumni pekerja diwajibkan menyalurkan zakat sebesar 2,5 persen dari penghasilan mereka sebagai bagian dari sistem ekonomi berbasis sedekah yang diterapkan pesantren.
Dari sisi pengawasan, KH. Fajar memastikan bahwa para pekerja tetap dalam pemantauan setelah ditempatkan di luar negeri melalui jaringan dan petugas pesantren di berbagai negara tujuan.
“Jadi mereka tidak dilepas begitu saja, tetapi tetap dalam pengawasan,”pungkasnya.ardan/wan/mbi.
- Penulis: mbiredaktur
Saat ini belum ada komentar