Breaking News
Trending Tags

OPTIMALKAH PPKM DARURAT?

  • account_circle mbiredaktur
  • calendar_month Senin, 26 Jul 2021
  • visibility 75
  • comment 0 komentar
  • print Cetak

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.

oleh
Daddy Rohanady
Anggota DPRD Provinsi Jabar

ANTARA PERUT DAN MAUT

hampir semua pedagang kini meradang
mereka merasa bernasib sama
otak mereka diperas
agar tabungan dan isi rumah tidak terkuras
repotnya yang tak punya tabungan
bantuan yang ada pasti tak cukup
apalagi kalau larangan diperpanjang
bagaimana menyambung hidup kalau dagang dilarang?

memang tidak boleh putus asa
Jika tak ada jalan keluar?

solusi seakan buntu
dilarang berkerumun dan semua dibatasi
tapi perut harus diisi
mereka butuh makan
maka tetap harus ada jalan
jangan menunggu amuk rakyat
kalau itu terjadi, birokrasi tak lagi punya arti
karena pilihannya antara hidup dan mati
kalau terus dibiarkan
rakyat tak lagi punya pilihan
mereka bisa turun ke jalan
tapi bukan jalan-jalan
mereka jadi demonstran
semoga cobaan berat ini segera berlalu
sampai kapan bisa bertahan juga tak ada yang tahu

kalau sudah berkaitan dengan perut
semua tak lagi takut maut

Itulah sekilas gambaran situasi yang berkembang belakangan ini. PPKM Darurat memang sudah berakhir pada 20 Juli 2021 lalu berbarengan dengan Idul Adha 1442 H. Penerapan kebijakan tersebut di satu sisi sukses mencegah pergerakan masyarakat yang semula dikhawatirkan akan pulang kampung.

Banyak pejabat sudah menyatakan bahwa PPKM Darurat berhasil menekan angka peningkatan jumlah terkonfirmasi covid-19. Angka-angka yang dipublikasikan memang mendukung semua itu. Belum lagi persentase angka keterisian tempat tidur di setiap rumah sakit yang terus turun. Semua itu memperkuat argumentasi keberhasilan PPKM Darurat.

Kini era berganti. Presiden Jokowi mengubahnya menjadi PPKM berlevel. Mayoritas wilayah pun menerapkan kebijakan wilayahnya di level 4. Sebenarnya, tidak terlalu banyak perbedaannya antara PPKM Darurat dengan PPKM level 4. Hanya ada beberapa bagian yang dilonggarkan. Pada intinya, tujuannya memang sama, yakni mengurangi kemungkinan penyebaran covid-19 secara lebih meluas.

Di satu sisi tujuan kebijakan yang diambil pasti dipahami masyarakat. Namun, ada hal yang tak bisa kita abaikan pula. Itulah yang coba saya tuangkan dalam deretan kata di awal tulisan ini. Pada dasarnya manusia memang butuh sehat, tetapi dia juga butuh makan.

Andai kemudian kebijakannya seratus persen tak boleh berjualan, saya khawatir ini menjadi kebijakan yang kontraproduktif. Di satu sisi kita ingin memperhatikan kesehatan, tanpa mengabaikan sisi recovery ekonomi. Namun, sekali lagi misalnya, andai dilakukan pelarangan berjualan secara total, pasti di sana sini akan banyak perlawanan.

Betapa tidak, para pedagang asongan, misalnya, pasti tidak setuju dengan PPKM Darurat. Mereka mayoritas baru bisa makan dari hasil penjualan hari itu. Bagi mereka, makan tidaknya hari itu –atau maksimal besok– sangat bergantung pada hasil penjualan hari ini. Lantas, apa yang akan terjadi jika mereka dilarang berjualan?

Secara sederhana, kita bisa menjawab dengan mudah. Mereka akan melakukan penolakan. Mereka akan tetap berjualan. Itu semua mereka lakukan demi keluarganya. Bagaimana mungkin seseorang akan membiarkan keluarganya tidak makan?

Bansos? Bukankah sudah dinyatakan bahwa besarannya Rp600.000 per keluarga per bulan. Andai suami-istri sebuah keluarga hanya satu yang jadi tulang punggung (mencari uang), berarti mereka berdua harus menggunakan dengan berhemat karena jatahnya Rp20.000 per hari.

Lalu bagaimana, misalnya, kalau mereka harus membayar listrik dan PAM minimal. Apalagi kalau mereka mempunyai anak sekolah. Pulsa untuk anaknya harus dibayar pula. Berarti besaran biaya mekan mereka per hari menjadi jauh lebih kecil lagi. Itu untuk mereka yang mendapat bansos.

Bagaimana dengan keluarga yang tidak mendapat bansos? Mereka bisa dipastikan akan tetap berdagang atau melakukan kegiatan lainnya yang diharapkan bisa memenuhi kebutuhan keluarganya. Mereka juga pasti menyadari risiko yang harus ditanggung. Jadi, kebijakan kita harus dipikirkan secara matang. Karena, seperti akhir deretan kata-kata saya di awal tulisan ini, kalau sudah berkaitan dengan perut, semua tak lagi takut maut.

  • Penulis: mbiredaktur

Komentar (0)

Saat ini belum ada komentar

Silahkan tulis komentar Anda

Email Anda tidak akan dipublikasikan. Kolom yang bertanda bintang (*) wajib diisi

Rekomendasi Untuk Anda

  • Nekat Beroperasi, Satpol PP Kota Bandung Segel  SPA Paskal Hyper Square

    Nekat Beroperasi, Satpol PP Kota Bandung Segel SPA Paskal Hyper Square

    • calendar_month Kamis, 25 Jun 2020
    • account_circle mbiredaktur
    • visibility 54
    • 0Komentar

    BANDUNG, MBInews.id – Satuan Polisi Pamong Praja (Satpol PP) Kota Bandung menyegel sebuah tempat spa di area ruko Paskal Hyper Squre, Jalan Pasirkaliki, Kota Bandung, Rabu 24 Juni 2020. Spa tersebut nekat beroperasi padahal berlum diizinkan beroperasi pada masa Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB) proporsional kedua. “Kami menyegel penyegelannya karena ada pelanggaran terkait Perwal PSBB. […]

  • Inisiasi Darma Wanita Bapperida Kab Bandung potong Hewan Qurban 1 Ekor Sapi

    Inisiasi Darma Wanita Bapperida Kab Bandung potong Hewan Qurban 1 Ekor Sapi

    • calendar_month Senin, 9 Jun 2025
    • account_circle MBI Admin
    • visibility 53
    • 0Komentar

    Kab. Bandung, Mbinews.id – Iniasiasi peduli Idul Adha Darma Wanita Bapperida Kab Bandung penyembelihan daging qurban satu ekor Sapi untuk karyawan dan warga sekitar Bapperida Kab Bandung, Sabtu (7/6/2025) . Dikatakan Ketua Darma Wanita Bapperida Kab Bandung, Hj Ai Marlan, Alhamdulilah, kita dari Darma Wanita Bapperida baru pertama melakukan pemotongan hewan qurban dan ini bentuk […]

  • Petani di Kota Sukabumi Keluhkan Harga Pupuk Naik

    Petani di Kota Sukabumi Keluhkan Harga Pupuk Naik

    • calendar_month Rabu, 23 Sep 2020
    • account_circle mbiredaktur
    • visibility 51
    • 0Komentar

    SUKABUMI-MBInews.id – Sejumlah petani padi di Kota Sukabumi terpaksa harus menghentikan kegiatan produksinya. Hal itu dipicu oleh naiknya beberapa jenis pupuk saat ini. Seperti yang diungkapkan oleh salah satu Kelompok Tani asal Kampung Cibungur, Kelurahan Sindangpalay, Kecamatan Cibeureum Kota Sukabumi Aisyah (57), dirinya mengaku dengan tingginya harga pupuk terpaksa harus menghentikan tanam padinya.Padahal Aisyah sebelumnya […]

  • bank bjb Raih Peringkat Pertama Kategori Bank Go Public versi InfoBank

    bank bjb Raih Peringkat Pertama Kategori Bank Go Public versi InfoBank

    • calendar_month Kamis, 12 Agt 2021
    • account_circle mbiredaktur
    • visibility 51
    • 0Komentar

    BANDUNG, MBInews.id – PT Bank Pembangunan Daerah Jawa Barat dan Banten Tbk atau bank bjb kembali mencatatkan prestasi. Kali ini, bank bjb berhasil meraih peringkat pertama kategori Rating Bank Go Public dalam Rating 109 bank versi InfoBank per Desember 2019-2020. Hal tersebut dimuat dalam Majalah Infobank edisi Agustus 2021. Dalam kategori Bank Go Public tersebut, […]

  • Kelompok LSL Mendominasi Kasus Baru HIV/AIDS di Kota Sukabumi

    Kelompok LSL Mendominasi Kasus Baru HIV/AIDS di Kota Sukabumi

    • calendar_month Selasa, 30 Nov 2021
    • account_circle mbiredaktur
    • visibility 56
    • 0Komentar

    SUKABUMI, Mbinews.id – Berdasarkan data bulan Januari 2021 hingga bulan September 2021, terdapat penambahan 112 kasus HIV (Human Immunodeficiency Virus) dan AIDS (Acquired Immune Deficiency Syndrome). Hal tersebut disampaikan oleh Sekretaris Komisi Penanggulangan AIDS (KPA) Kota Sukabumi H.F. Kusumajaya, seperti yang dilansir dari laman resmi Pemerintah Kota Sukabumi, Selasa (30/11/2021). Berdasarkan data dari tahun 2000 […]

  • DKPP Kota Bandung Musnahkan Lebih dari 369 Kg Jeroan Sapi dan Domba Kurban

    DKPP Kota Bandung Musnahkan Lebih dari 369 Kg Jeroan Sapi dan Domba Kurban

    • calendar_month Senin, 11 Jul 2022
    • account_circle mbiredaktur
    • visibility 57
    • 0Komentar

    BANDUNG, MBInews.id – Dinas Ketahanan Pangan dan Pertanian (DKPP) Kota Bandung memusnahkan 369,65 kg jeroan sapi dan domba afkir. Hal itu berdasarkan hasil pemeriksaan postmortem hewan kurban di Kota Bandung sampai dengan Senin, 11 Juli 2022 pukul 13.00 WIB. “Data ini kami ambil dari 233 lokasi pemotongan hewan kurban yang tersebar di 30 kecamatan se-Kota […]

expand_less