Patambaan Siliwangi Didorong Jadi Warisan Budaya, Dinilai Berpotensi Dongkrak Wisata Sukabumi
- account_circle mbiredaktur
- calendar_month Kamis, 16 Apr 2026
- visibility 214
- comment 0 komentar
- print Cetak

Pimpinan Pondok Pesantren Dzikir Al-Fath Sukabumi, KH. Fajar Laksana
info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.
SUKABUMI,Mbinews.id – Naskah kuno Patambaan Siliwangi didorong segera ditetapkan sebagai warisan budaya, menyusul temuan nilai historis dan potensi ekonominya sebagai daya tarik wisata baru di Kota Sukabumi.
Dorongan itu disampaikan Pimpinan Ponpes Al-Fath, KH M Fajar Laksana, Rabu (15/4), di tengah kajian bersama peneliti terhadap puluhan manuskrip kuno yang tersimpan di Museum Prabu Siliwangi.
Menurut Fajar, penetapan resmi naskah tersebut penting agar memiliki legitimasi kuat untuk dipromosikan ke publik. “Kalau ini sudah ditetapkan sebagai warisan budaya, maka punya kekuatan untuk dipromosikan. Orang tidak hanya datang melihat, tapi juga belajar dan meneliti,” ujarnya.
Naskah Patambaan Siliwangi dinilai bukan sekadar dokumen sejarah, tetapi juga menyimpan pengetahuan pengobatan tradisional berbasis tanaman herbal yang diwariskan secara turun-temurun oleh masyarakat Sunda.
Dari hasil kajian awal, ditemukan puluhan jenis tanaman yang digunakan sebagai bahan pengobatan. Meski masih bersifat empiris, temuan ini dianggap relevan dengan kebutuhan masyarakat modern yang mulai kembali melirik pengobatan alami.
“Ini menunjukkan bahwa sejak dulu masyarakat sudah punya sistem pengobatan sendiri yang berbasis pengalaman dan lingkungan,”kata Fajar.
Penelitian terhadap naskah tersebut dilakukan bersama Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), yang mengkaji 29 manuskrip kuno. Tema Patambaan dipilih karena memiliki keterkaitan langsung dengan isu kesehatan tradisional.
Fajar menekankan, langkah lanjutan yang perlu ditempuh adalah mendorong dua bentuk pengakuan: praktik pengobatannya sebagai warisan budaya tak benda, serta naskahnya sebagai benda cagar budaya.
“Kalau sudah legal dan diakui, ini akan lebih mudah dikembangkan menjadi produk budaya yang bisa menarik wisatawan,”tegasnya.
Ia menilai, jika dikemas sebagai wisata edukasi, Patambaan Siliwangi berpotensi menggerakkan sektor ekonomi lokal, mulai dari perhotelan hingga kuliner.
“Kalau kunjungan meningkat, maka hotel, kuliner, dan sektor jasa lainnya ikut bergerak. Ini peluang nyata bagi daerah,”katanya.
Fajar juga mengungkapkan adanya kesinambungan antara praktik pengobatan yang ia pelajari secara turun-temurun dengan isi naskah yang telah diteliti.
“Saya belajar dari keluarga secara praktik. Tapi setelah dikaji, ternyata ramuannya sama. Ini menunjukkan kesinambungan antara tradisi dan manuskrip,”ungkapnya.
Peneliti filologi dari Pusat Pengkajian Islam dan Masyarakat UIN Jakarta, Ilham Nurwansah, menyebut naskah Patambaan sebagai dokumentasi pengetahuan empiris masyarakat masa lalu.
“Di dalamnya terdapat resep-resep herbal, cara pengolahan, hingga manfaatnya. Ini menjadi bukti bahwa pengetahuan itu sudah disusun dan diwariskan,”jelasnya.
Ia menambahkan, naskah tersebut juga memuat unsur lain seperti perhitungan hari dan perbintangan, yang menunjukkan kompleksitas pengetahuan masyarakat pada masanya.ardan/wan/mbi.
- Penulis: mbiredaktur
Saat ini belum ada komentar